Rabu, 06 Mei 2015

Film : Unbroken (2014)

Movie Review: Unbroken (2014)

"If you can take it, you can make it."

Pernyataan terkait keinginannya untuk pensiun dari dunia film sebagai aktris tentu saja menjadikan kita semakin yakin bahwa Angelina Jolie sudah jatuh cinta untuk berkarya di balik layar sebagai sutradara, profesi yang sudah ia mulai tiga tahun yang lalu. Ada sebuah pertumbuhan yang menarik dari seorang Angelina Jolie di film keduanya sebagai sutradara ini namun sayangnya ibarat seorang pematung ia merupakan sosok yang mampu mengolah sebongkah kayu menjadi berbagai bentuk yang menarik tapi celakanya ia belum mampu memolesnya untuk tampak menarik dan memikat dalam jangka waktu yang lama. Unbroken, a stiff biography which can't toying his audience.


Di masa kecilnya Louis Zamperini (Jack O'Connell) merupakan anak laki-laki yang terbilang nakal, sering membuat kekacauan, mencuri dan merokok, hingga mengintip rok anak perempuan. Tapi kelakuannya yang terakhir tadi justru menjadikan bakat dari pria dengan nama panggilan Louie ini menangkap atensi keluarganya. Dengan dorongan dari abangnya Louie  memutuskan untuk menjadi seorang pelari dan hebatnya bakat yang berhasil membawanya menuju Olimpiade dan meraih julukan sebagai “The Torrance Tornado”, meskipun pecahnya Perang Dunia II menjadi penghalang yang memaksanya untuk bergabung dengan Angkatan Udara. 

Di profesi barunya itu Louie dengan cepat memperoleh teman baru, Russell "Phil" Phillips (Domhnall Gleeson), Francis "Mac" McNamara (Finn Wittrock), dan Charlton Hugh Cupernell (Jai Courtney). Namun celakanya mereka pula yang membawa Louie kedalam masalah baru ketika pesawat yang mereka katakana layak terbang untuk digunakan dalam operasi search and rescue mengalami kerusakan pada mesin dan menyebabkan mereka terombang-ambing di Samudra Pasifik. Tapi sudah jatuh masih pula tertimpa tangga, setelah mengalami kecelakaan Louie dan teman-temannya kini berada didalam kekuasaan tentara Jepang yang meskipun memberikan pertolongan namun dibawah komando Mutsuhiro Watanabe (Miyavi) tetap menaruh curiga pada mereka.


Setiap tahunnya pasti akan selalu ada film dengan tipikal seperti ini, film yang memiliki komposisi awal sangat menjanjikan baik itu dari segi sutradara, penulis, cerita, hingga para pemeran serta sosok-sosok lain di divisi teknis, akhirnya menjadikan banyak orang mulai mengantisipasinya dan tenggelam dalam hype, namun ketika ia benar-benar muncul boom hiburan yang ia berikan terasa tidak istimewa. Oscar bait, begitu panggilan yang akrab digunakan oleh para moviegoers, film yang disokong dengan hype tinggi dengan incaran utama tentu saja menjadi bagian besar dari ajang-ajang penghargaan di akhir tahun. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut dan jika menilik komposisi dasar film ini juga sangat layak untuk mencoba melakukan hal tadi namun yang menjadi masalah adalah ia tidak berakhir di posisi teratas. Tengah? Urgh, mungkin hampir.

Dengan durasi dua jam lebih yang ia miliki Unbroken kurang berhasil memberikan hiburan yang sesuai dengan materi yang ia miliki. Ada Angelina Jolie di posisi terdepan sebagai senjata utama, kemudian ia juga punya Richard LaGravenese dan William Nicholson, dua penulis dengan nominasi Oscar di kantong mereka, dan semua semakin menjanjikan ketika Joel Coen dan Ethan Coen masuk kedalam  tim untuk memberikan sentuhan di naskah setelah Jolie bergabung. Hanya itu? Tidak, di score ia punya Alexandre Desplat, dan itu semakin lengkap karena tatanan visual berada di tangan Roger Deakins, serta editing berada di bawah kendali dua sosok yang pernah ambil bagian di Argo, Zero Dark Thirty, Life of Pi, hingga Transformers. Terus apa gunanya membahas hal-hal teknis tadi? Karena apa yang mereka berikan secara individual pada dasarnya tidak mengecewakan, namun cara Angelina Jolie mengendalikan mereka yang terasa mengecewakan.


Membosankan? Mungkin. Monoton? Ya. Ini seperti menyaksikan dongeng tentang putri salju tanpa didampingi tujuh kurcaci, menarik tapi tidak mampu menjadikan objek yang ia gambarkan terus menerus mencuri perhatian. Kita punya alur maju dan mundur disini yang pada dasarnya dapat dimanfaatkan untuk menampilkan dramatisasi yang lebih baik lagi, tapi celakanya disini ia hanya berfungsi sebagai sebuah media yang menyampaikan hubungan sebab akibat. Babak awal terhitung oke tapi setelah itu sulit untuk merasakan urgensi dalam cerita, Jolie terasa kurang tangkas dan cekatan dalam mempermainkan materi-materi lezat yang ia miliki. Terlalu kaku dan kemudian salah fokus, mungkin itu dua masalah utamanya, Jolie seperti ingin bercerita banyak termasuk dengan highlights untuk menangkap perjuangan yang dilakukan oleh Zamperini, itu berhasil tapi celakanya tidak meninggalkan kita sesuatu yang benar-benar menakjubkan.

Bukan berarti saya tidak menghargai rasa percaya diri dari seorang Angelina Jolie untuk kembali mencoba mengendalikan sebuah film, bahkan di percobaan keduanya ini ia menunjukkan sebuah pergerakan ke arah positif, tapi sayangnya ia memilih proyek yang salah. Unbroken punya materi yang masih terlalu berat untuk di tangani oleh seorang Angelina Jolie, dan hasilnya ia gagal menjadi sebuah biografi yang meskipun tidak mampu menginspirasi tapi at least harus mampu meninggalkan semangat perjuangan yang menarik. Cerita yang bergerak maju dan mundur tidak begitu buruk, bahkan dari segi visual ia juga sangat mudah untuk di nikmati dan di kagumi, namun setelah pembukaan yang menarik itu Unbroken tidak berkembang dengan baik, karakter dan cerita terasa stuck, banyak momen yang terasa monoton bahkan hambar, ada grafik menurun yang konsisten hingga mencapai titik akhir yang juga tidak berhasil meninggalkan dampak yang besar.


Mungkin hal menarik lainnya dari film ini di luar nilai positif dari beberapa elemen teknis adalah penampilan Jack O'Connell. Dari segi karakterisasi mungkin tidak ada sebuah gebrakan baru yang Jack tampilkan disini karena dari This Is England, Skins, hingga yang terbaru Starred Up sudah cukup hafal bahwa peran keras dan pemberontak merupakan makanan lezat baginya. Yang menarik perhatian adalah kemampuannya untuk terus menjaga perhatian penonton pada karakter Louie dibalik “kekacauan” yang terjadi di sekitarnya. Beberapa peristiwa tentang kehidupan seorang Louie berhasil ditampilkan dengan baik oleh Jack O'Connell meskipun memang kesan penting dari apa yang ia alami itu tidak terbakar dengan baik karena tidak mampunya Angelina Jolie mengatur dinamika cerita, terkesan terburu-buru di satu bagian yang memerlukan kedalaman tapi justru memilih berlama-lama di bagian yang tidak membutuhkan kedalaman yang berlebihan.


Overall, Unbroken adalah film yang kurang memuaskan. Visi menjadi masalah utama dimana walaupun telah menunjukkan pertumbuhan yang positif sebagai sutradara namun disini Angelina Jolie masih kaku dan bingung pada seperti apa kisah ini ingin ia sampaikan sehingga menyebabkan petualangan yang seharusnya meninggalkan kesan mendalam terkait kehidupan ini seperti menyia-nyiakan materi empuk yang ia miliki sejak awal. Tidak ada kesalahan fatal dari segi teknis bahkan berhasil menyelamatkan film ini dari jurang kehancuran total, tapi eksekusi yang tampak bermain aman dan terasa kurang bertaji dari seorang Angelina Jolie menjadikan Unbroken berakhir sebagai biografi yang terasa biasa saja, lemah di visi dan miskin imajinasi dan sensasi.


Film : The Other Boleyn Girl




Thomas Boleyn (Mark Rylance) adalah seorang ayah dari 3 anak. Anne Boleyn (Natalie Portman) yang periang dan suka mencari tantangan, Mary Boleyn (Scarlett Johannson) pendiam dan penurut dan selalu berada di bawah bayang-bayang Anne yang dominan. dan George Boleyn (Jim Sturgress ). Ia dan ketiga anaknya, tinggal bersama istrinya Elizabeth (Kristin Scott Thomas) di sebuah desa.
Thomas memiliki seorang adik ipar bernama Thomas Howard, seorang bangsawan yang bergelar Duke of Norfolk yang licik dan sangat berambisi untuk bisa menjadi bangsawan kaya raya. Dia selalu menghasut abang iparnya agar mencari jodoh pria-pria kaya untuk kedua anak gadisnya yang cantik jelita. Setiap keluarga menggunakan anak mereka untuk bisa meraih status social yang lebih tinggi di masa itu. Akhirnya, Mary dilamar oleh William Carey (Benedict Cumberbatch), seorang anak pedagang kaya. Pernikahannya dilaksanakan dengan meriah dan Mary sangat mencintai pria itu.

Sementara itu, di istana, permaisuri Katherine of Aragon (Ana Torrent) menderita tekanan batin karena tidak bisa memberikan keturunan laki-laki sebagai pewaris kerajaan. Anak yang terakhir dilahirkannya yang berjenis kelamin lelaki, tapi sayangnya meninggal.. Raja Henry VIII (Eric Bana), sangat marah dan kecewa karena itu. Dia sudah terlalu lama menunggu hadirnya seorang putera sebagai pewaris kerajaannya. Akibatnya, hubungan antara Raja dan Ratu mulai memburuk. Duke of Norfolk melihat hal ini sebagai kesempatan untuk bisa meraih impiannya. Dia beranggapan kalau raja akan segera mencari hiburan dengan mengambil seorang gundik. Kemudian dia menghasut abang iparnya itu, mulai berancang-ancang untuk menyodorkan putri sulungnya yang belum menikah, Anne sebagai salah satu calon gundik raja.

Tujuannya tak lain agar derajat nya bertambah dan kekayaan mereka bertambah. Ayahnya setuju, lalu membujuk Anne agar mau mencoba, sebelum keluarga-keluarga bangsawan lainnya menyadari. Awalnya Anne tidak setuju, tapi ayahnya membujuk dengan setengah memaksa. Agar keluarga mereka bisa kaya dan naik statusnya. Thomas juga berhasil memaksa istrinya menyetujui rencananya, untuk menyelenggarakan pesta di rumah mereka dengan tujuan untuk memancing perhatian raja kepada Anne yang cantik. Istrinya mula-mula tidak setuju, karena untuk mengundang raja akan butuh biaya pesta yang sangat besar, tapi Thomas tetap memaksa. Didukung oleh Thomas Howard.

Anne yang mula-mula tidak setuju, akhirnya mengalah dan bertekad untuk bisa melaksanakan tugas yang diberikan ayahnya, untuk menundukkan raja Inggris, itu dengan baik. Dia menjadikan tugas itu sebagai tantangan yang menarik.

Akhirnya raja pun datang berkunjung untuk memenuhi undangan pesta keluarga Boleyn. Lengkap dengan sepasukan besar prajurit pengiringnya. Seluruh keluarga itu bersiap-siap menyambutnya. Dan Thomas pun memperkenalkan Anne, tapi mengabaikan Mary, karena dia sudah menikah. Ibunya hanya bisa memandang sedih melihat putri mereka diperlakukan seperti dagangan oleh ayahnya.

Keesokan harinya, raja mengadakan perburuan. Anne juga ikut dengan menunggang kudanya sendiri. Raja memandangnya dengan heran. Karena hal seperti itu tidak lazim pasa masa itu. Tapi ternyata perburuan itu membawa bencana. Raja terluka, ketika berusaha menolong Anne. Padahal Anne sangat mahir dalam berburu. Jadi, Anne selamat dan Raja terluka. Akibatnya, harga diri Raja sangat terluka.

Thomas Howard lalu menghasut abang iparnya agar menyodorkan Mary saja, karena takut Raja sudah membenci Anne karena kejadian itu. Maka Mary pun diminta merawat luka-luka raja. Dengan malu-malu dan risih, Mary menerima. Karena sebenarnya dia sudah berstatus istri orang. Dan ternyata, raja lebih terpesona kepada Mary dan memintanya untuk bekerja sebagai dayang di istana. Semua orang memahami, bahwa itu artinya dia ingin mengangkat Mary sebagai gundik. Sementara suaminya ditugaskan sebagai dewan penasihat raja. William setuju dengan berat hati karena dipaksa oleh Duke Norfolk, dan tidak bergeming bagaimanapun Mary membujuknya agar menolak tawaran itu. Mary meminta agar Anne saja yang dikirim. Tapi, ayahnya memaksa agar ia juga ikut pergi ke istana.

Sementara Anne sendiri jadi membenci Mary. Dia menganggap adiknya itu telah merebut calon suaminya. Dia tidak perduli ketika Mary berusaha membantah hal itu. Dan menjelaskan bahwa kebetulan memang raja menginginkan seorang wanita yang pendiam dan penurut seperti dirinya. Tidak seperti Anne yang riang dan mandiri, dan seperti tidak membutuhkan bantuan laki-laki.

Akhirnya Mary dan Anne pun dikirim untuk bekerja di istana dan bekerja sebagai dayang permaisuri. Permaisuri yang terkejut menerima kedatangan mereka. Dan segera menyadari kalau raja menginginkan Mary menjadi gundiknya. Dan dia tidak menyukainya, tapi tidak menganggap Mary sebagai ancaman. Karena pembawaannya yang pendiam dan lugu.

Di istana, William pura-pura menutup mata dan tidak mengetahui kalau istrinya tidur dengan raja. Dia sendiri merasa kalau suasana istana ini tidak menyenangkan untuknya.
Begitu ayah dan pamannya meyakini kalau raja sudah sangat terpesona dengan Mary, mereka mulai mempersiapkannya sebagai pengganti permaisuri. Perlahan-lahan, Mary juga mulai menyenangi hubungannya dengan raja itu. Dan tidak perduli lagi dengan suaminya. Dan William pun ditugaskan ke tempat yang jauh dari istana.

Sementara itu, karena putus asa Anne menikah diam-diam dengan Henry Percy (Oliver Coleman), seorang bangsawan yang telah bertunangan dengan Mary Talbot (Tiffany Freisberg). Dengan tujuan, agar ia bisa memperoleh status sebagai istri bangsawan. Mary memberitahukan hal ini kepada ayahnya. Ayah dan pamannya sangat marah. Pernikahan itu dianggap tidak sah dan mengirim Anne ke Prancis untuk diasingkan. Dan Anne sangat membenci Mary karena membocorkan berita ini kepada ayah mereka.

Akhirnya Mary menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dengan gembira raja menyampaikan sendiri kabar ini kepada Thomas Boleyn. Sebagai hadiah, keluarga mereka mendapat kenaikan status, ayahnya mendapat gelar Earl, abangnya mendapat gelar Viscount dan mereka diberi sebuah istana. Ayahnya memutuskan bahwa George akan dijodohkan dengan Jane Parker (Juno Temple), yang masih kerabat dekat raja. Hal ini untuk semakin memantapkan posisi mereka di istana. George menolak karena ia tidak mencintainya tapi akhirnya terpaksa menuruti kehendak ayahnya.

Ternyata rahim Mary lemah, anak yang dikandungnya hampir saja gugur. Maka untuk menghindari hal itu, tabib istana memutuskan kalau ia pun harus dipingit dan tidak bisa tidur bersama raja. Hal ini meresahkan pamannya, mengingat tabiat Henry yang senang bergonta-ganti wanita. Mereka mencari cara agar perhatian raja tidak teralih kepada wanita lain.

Dengan itu, Thomas Boleyn meminta Anne kembali dari Prancis, sesuai dengan saran Lord Norfolk. Anne ditugaskan untuk menghibur raja sekaligus menjaga agar perhatiannya tetap tercurah kepada Mary, selagi dia terpingit untuk menjaga kandungannya. Anne melihat hal ini sebagai kesempatan baginya, untuk mengambil alih posisi adiknya, Mary.

Di Prancis, Anne telah belajar bagaimana caranya menjadi wanita bangsawan yang pintar menarik perhatian pria. Seorang wanita mandiri yang tahu bagaimana caranya membuat pria tersanjung dan sekaligus mampu memahami politik dan intrik istana. Perubahan sikapnya telah membuat raja telah memaafkan perbuatannya dulu dan menerimanya kembali di istana.

Mary yang mengetahui kabar ini menjadi resah. Karena dia mengetahui apa yang bisa dilakukan Anne untuk merebut perhatian Raja darinya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sedang dipingit, untuk menjaga kehamilannya. Dan Raja yang kesepian karena tidak bisa bertemu dengan istrinya, perlahan-lahan mulai terpikat pada sosok Anne yang menarik. Dengan kelihaiannya, Anne berusaha memikat Raja. Lalu Henry mengirimkan sebuah bros permata untuk Anne, dengan harapan Anne bersedia menyerahkan dirinya kepada Raja. Anne yang punya rencana licik, mengirimnya kembali kepada raja. Henry semakin penasaran dan bersedia melakukan apapun, agar Anne mau tidur dengannya.

Sementara itu, hubungan Anne dan Mary semakin memburuk. Anne mengunjungi kamar Mary dan menggunakan kesempatan itu untuk membuat Mary kesal. Ia mengatakan kalau Raja sedang mengejar-ngejar dirinya dan tidak memperdulikan keadaan Mary yang sedang dipingit.

Akhirnya Mary melahirkan anaknya. Ketika proses itu sedang berlangsung, Henry berlutut di hadapan Anne dan menyatakannya sebagai cinta sejatinya. Dengan berjanji, bahwa ia tidak akan berbicara atau berhubungan dengan Mary ataupun permaisuri lagi. Hanya dengan Anne. Asalkan Anne mau berhubungan dengannya. Ia bahkan mengambaikan anak Mary dan pergi begitu saja.
Paman dan ayahnya sangat marah melihat hal itu. Dan dengan kejam, Anne memberitahu Mary kalau ia dan bayi haramnya akan dikirim ke kampung halamannya. Dan raja menyetujuinya.

Anne mempunyai harapan yang lebih tinggi dari Mary. Kalau Mary sudah bahagia hanya dengan menjadi gundik raja, Anne ingin menjadi permaisuri dan menyingkirkan ratu yang masih hidup saat itu. Ratu Katherine memandangi kepergian Mary dari jendela. Ia menyadari ada hal lain yang akan terjadi. Setelah kepergian Mary, raja kembali menanyakan apakah Anne akan bersedia tidur dengannya.

Anne mengajukan syarat, bahwa ratu Katherine harus disingkirkan dari istana. Bahwa Raja harus mengirim Ratu Katherine ke biara. Dan ia ingin menikah secara resmi dengan Henry. Hal itu sebenarnya tidak mungkin, karena raja hanya bisa memiliki seorang istri sah. Anne menyarankan agar raja menceraikan Ratu Katherine.

Tiba-tiba, raja menerima sebuah surat dari Mary Talbot yang berisi pengajuan cerai, karena suaminya, Henry Percy diketahui telah tidur dengan Anne Boleyn, sebelum menikah dengannya. Raja sangat marah. Dia tidak mau bertemu dengan siapapun dari keluarga Boleyn, kecuali Mary yang sangat dipercayainya. Anne berusaha membujuk Mary agar mau berbohong deminya, dan membantah hal itu. Mary bersedia. Anne sangat berterimakasih. Tapi Mary mengatakan kalau ia hanya melakukan hal itu sebagai tawaran berdamai dengan saudarinya. Dan Anne meminta agar Marypun kembali tinggal di istana.

Pengadilan terhadap Ratu Kathernie pun dilakukan, dengan tujuan untuk mengirim ratu ke biara. Tapi Ratu menolak pengadilan itu dan menuntut untuk bicara langsung kepada Paus. Tapi tetap saja raja mengirimnya ke biara. Dan mengabaikan risiko bahwa Inggris akan dikucilkan Katolik dan terancam dikuasai Protestan. Raja yang sudah terpikat dengan Anne, akhirnya menyetujui saja semua persyaratan Anne, asalkan ia bersedia tidur dengannya.

Anne dan Henry pun menikah, dan Anne diangkat menjadi ratu. Tapi dia tidak bisa melahirkan seorang putera juga. Anak pertamanya perempuan, diberi nama Elizabeth. Ketika itu, Raja sudah mulai kehilangan perhatian padanya dan mendekati wanita lain, Jane Seymour (Corinne Galloway). Dia berusaha untuk hamil lagi. Namun kali ini, Anne mengalami keguguran. Karena ketakutannya, Anne meminta agar saudaranya, George tidur dengannya agar dia bisa hamil lagi, sebelum raja mengetahui tentang keguguran yang dialaminya.

Mary begitu terkejut dan kecewa melihat keinginan Anne, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkan istana malam itu juga. Sambil berdoa agar Tuhan memafkan dosa besar yang akan diperbuat abang dan kakaknya. Tanpa sepengatahuan mereka, Jane Parker melihat Anne dan George berduaan di tempat tidur. Walaupun sebenarnya tidak terjadi apa-apa, karena George tidak mampu memenuhi keinginan Anne.

Tapi, Jane yang merasa ditelantarkan oleh George, mengadukan perbuatan ini kepada raja. Raja sangat murka dan meminta agar Anne segera diadili dengan tuduhan melakukan incest. Pamannya, Lord Norfolk termasuk salah seorang dari bangsawan yang menyatakan Anne bersalah dan dihukum pancung.

George mendapat hukuman pancung terlebih dahulu, menyusul kemudian Anne. Meskipun Mary datang menghadap Raja, untuk memohon agar saudarinya itu dibebaskan, tapi raja tidak mengabulkannya. Anne tetap dihukum pancung, dan Mary diusir dari istana. Dia tidak diperbolehkan lagi datang, kalau ia datang, maka ia akan dihukum juga.

Setelah pemancungan itu, Mary membawa putri Anne, Elizabeth, pergi dari istana. Sir Thomas Boleyn meninggal karena malu dan sedih dua anaknya tewas dihukum pancung. Sementara pamannya, Lord Norfolk, dipenjara. Sejarah mencatat, tiga keturunannya, anak-cucu-cicit, tewas dipancung karena kasus penghianatan.

Mary Boleyn menikah lagi dengan William Stattford dan memilih untuk tinggal di desa, membesarkan putranya dan putri Anne, Elizabeth.Elizabethlah yang kemudian akan memerintah Inggris selama 45 tahun.

 

Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Al-Fatih

Kejatuhan Konstantinopel (bahasa Turki: İstanbul'un Fethi) adalah penaklukan ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, yang terjadi setelah pengepungan sebelumnya, di bawah komando Sultan Utsmaniyah yang berumur 21 tahun, yaitu Muhammad al-Fatih, melawan tentara bertahan yang dikomandoi oleh Kaisar Bizantium Konstantinus XI. Pengepungan berlangsung dari Jumat, 6 April 1453- Selasa, 29 Mei 1453 (berdasarkan Kalender Julian), ketika kota itu ditaklukkan oleh Utsmaniyah.
Penaklukan Konstantinopel (dan dua wilayah pecahan lainnya segera setelah itu Bizantium) menandai berakhirnya Kekaisaran Romawi, sebuah negara yang telah berlangsung selama hampir 1.500 tahun, itu juga merupakan pukulan besar untuk Kristen. Intelektual Yunani dan non-Yunani Beberapa meninggalkan kota sebelum dan sesudah pengepungan, migrasi terutama ke Italia. Dikatakan bahwa mereka membantu penanda dimulainya Renaisans. Itu juga merupakan beberapa tanda akhir Abad Pertengahan oleh jatuhnya kota dan kekaisaran.[29]
Pergantian kekuasaan dari Kekaisaran Romawi Timur kepada Kesultanan Utsmaniyah ini menyebabkan jalur perdagangan antara Eropa dan Asia Barat di Laut Tengah terputus. Orang-orang Eropa tidak lagi datang ke Konstantinopel dan Venesia yang merupakan pelabuhan transit dalam perdagangan antara Asia dan Eropa. Persediaan rempah-rempah untuk dunia Kristen yang dulunya bisa didapatkan di Konstantinopel tidak tersedia lagi karena konflik antar agama Kristen dan Islam. Para pedagang terpaksa mencari jalur lain ke sumber rempah-rempah dan hal tersebut membawa bangsa Eropa ke kepulauan Nusantara yang pada akhirnya membuat bangsa Belanda menjajah Nusantara selama 350 tahun lamanya.
Kemunduran perdagangan di Laut Tengah juga berdampak terhadap perekonomian. Wilayah di sekitar Laut Tengah yang semula ramai dikunjungi para pedagang dari timur yang membawa rempah-rempah jadi sepi. Hal ini menyebabkan keguncangan perekonomian di sekitar Laut Tengah (Mediterania).

Persiapan

Peta Kekaisaran Romawi Timur yang semakin kecil akibat ditaklukkan terus menerus oleh Kesultanan Utsmaniyah sebelum Konstantinopel ditaklukkan.
Ketika Sultan Murad II digantikan oleh anaknya Mehmed II pada awal 1451, secara luas bahwa sultan muda baru, yang saat itu berumur 19 tahun, akan menjadi penguasa yang belum mampu dan tidak menimbulkan ancaman besar bagi kedudukan Kristen di Balkan dan Aegea. [30]Keyakinan ini diperkuat oleh utusan yang dikirim kepada Mehmed kepadanya pada awal pemerintahan.[31]Ketika musim semi dan musim panas 1452, Mehmed II, yaitu buyut dari Bayezid I sudah membangun benteng di dekat Bosphorus di sisi Asia yang disebut Anadolu Hisarı yang sekarang dibangun benteng kedua beberapa mil di utara Konstantinopel di sisi Eropa, tepat di seberang selat dari Anadolu Hisarı yang akan menaikkan pengaruh Turki di selat itu.[31] Adapun aspek terutama yang relevan dari benteng ini adalah kemampuannya untuk mencegah bantuan dari koloni Genoa di pantai Laut Hitam dari mencapai kota. Benteng ini disebut dengan Rumeli Hisarı, Rumeli dan Anadolu menjadi nama-nama bagian Eropa dan Asia dari Kesultanan Utsmaniyah, masing-masing. Benteng baru ini juga diketahui sebagai Boğazkesen, yang memiliki makna, yaitu pemblokir-selat yang menekankan posisi strategis. Nama Yunani benteng itu adalah, Laimokopia yang juga menyandang makna ganda yang sama. Pada Oktober 1452, Sultan Mehmed II memrintahkan Turakhan Beg dan anaknya, Ahmad dan Omar untuk memimpin kekuatan besar untuk Peloponesia dan tetap ada sepanjang musim dingin untuk menjaga para lalim Thomas dan Demetrios dari membantu saudara mereka, Konstantinus selama Pengepungan Konstantinopel.[32]
Kaisar Bizantium Konstantinus XI meminta Eropa Barat untuk menolong, namun pertolongan itu tidak bertemu dengan sukses. Sejak saling ekskomunikasi Ortodoks dan Katolik Roma pada tahun 1054, Katolik Roma Barat telah berusaha untuk memperoleh kekuasaan atas timur; adapun serikat telah mencoba sebelumnya di Lyon pada tahun 1274 dan memang, beberapa kaisar Paleologos memang diterima di gereja Latin. Kaisar Yohanes VII Palaiologos telah berusaha untuk bernegosiasi dengan Paus Eugenius IV, dan pada Konsili Florence yakni pada tahun 1439 dan menghasilkan proklamasi, di Florence dari Uni Banteng.
Sebuah Meriam Raksasa Turki yang digunakan untuk mengepung Konstantinopel pada pengepungan yang kedua.
Di musim panas 1452, ketika tugas Rumeli Hisari sudah selesai dan ancaman yang berasal dari Kesultanan Utsmaniyah semakin dekat, Konstantinus menulis surat untuk Paus untuk berjanji dan melaksanakan perserikatan tersebut. Adapun, dinyatakan berlaku oleh pengadilan kekaisaran pada hari Selasa, 12 Desember 1452 dan pelaksanaannya dikerjakan setengah hati.[31] Walaupun dia sangat ingin untuk sebuah keuntungan, Paus Nicolas V tidak mempunyai pengaruh Bizantium dan pikirnya memiliki lebih dari Raja-Raja Barat dan Pangeran-pangerannya, beberapa di antaranya untuk waspada meningkatkan kontrol Kepausan, dan ini bukanlah sarana buat berkontribusi dengan upaya, mengingat bahwa negara yang melemah di Perancis dan Inggris dari Perang Seratus Tahun, sedang Spanyol berada dalam akhir Reconquista, selain itu pertempuran internal dalam Kerajaan Jerman,Hungaria dan Polandia yang mengalami kekalahan pada Pertempuran Varna pada 1444. Meskipun beberapa pasukan telah datang dari negara kota perdagangan Italia bagian utara, kontribusi Barat tidak memadai untuk mengimbangi kekuatan Utsmani. Beberapa individu barat datang untuk mempertahankan kota untuk. Salah satunya adalah seorang prajurit yang digunakan untuk melengkapi pasukan yang berasal dari Genoa, yaitu Giovanni Giustiniani, yang tiba dengan 700 pria bersenjata lainnya di Januari 1453.[33]Seorang spesialis dalam mempertahankan kota-kota bertembok, ia langsung diberi komando pertahanan dinding tanah oleh kaisar, sekitar pada waktu yang sama para kapten dari kapal Venesia kebetulan hadir di Tanduk Emas menawarkan jasa mereka pada Kaisar, yaitu membuat pembatas yang berlawanan dari arah Venesia, dan Paus Nicholas mengambil langkah untuk mengirimkan tiga buah kapal yang sarat akan ketentuan, yang berlayar di dekat akhir Maret.[34]Di Venesia, sementara itu, musyawarah sedang berlangsung untuk mempertimbangkan jenis bantuan yang akan dipinjamkan oleh Republik kepada Konstantinopel. Senat memutuskan untuk mengirim armada, akan tetapi ada penundaan, dan akhirnya ditetapkan pada akhir April, tapi armada terlambat sehingga armada yang dikirimkan itu tak ikut dalam pertempuran.[35]Selanjutnya, 7 kapal Italia keluar dari ibu kota saat Giustiniani, maka tiba-tiba ada seorang pria yang bersumpah mempertahankan ibu kota. Pada saat yang sama, upaya Konstantinus menjanjikan hadiah untuk Sultan, berakhir dengan ekskusi duta besar Kaisar — bahkan diplomasi Bizantium tidak bisa menyelamatkan kota. [31]Maka dia pun segera mengajukan bermacam-macam tawaran kepada sultan agar mau menarik pasukannya dan sebagai penggantinya akan menyetorkan uang dan akan menyatakan ketaatan padanya dan tawaran-tawaran lainnya. Namun Sultan Muhammad Al-Fatih, alih-alih menerima tawaran itu, malah dia dengan tegas meminta kaisar menyerahkan kota Konstantinopel. Jika demikian, maka sultan akan memberi jaminan bahwa tidak akan ada seorang penduduk pun dan satu gereja pun yang akan diganggu.[36]
Gambar Kejatuhan Konstantinopel oleh Theophilos Hatzimihail.
Karena khawatir akan serangan dari Angkatan Laut Kesultanan Utsmaniyah di sepanjang pantai Tanduk Emas, maka Konstantinus XI memerintahkan agar rantai diletakkan di mulut pelabuhan. Rantai yang mengapung di atas gelondongan kayu, cukup kuat untuk mencegah kapal Turki untuk memasuki pelabuhan. Perangkat ini adalah salah satu dari dua yang digunakan sebagai bantuan sementara oleh Bizantium dengan harapan untuk memperluaskan pengepungan sampai kemungkinan kedatangan bantuan asing. Angkatan Laut Utsmani berusaha melampaui rantai-rantai besar yang dipasang pasukan Bizantium, yang merupakan sarana utama mereka untuk melindungi kota dari serangan luar.[36]Strategi ini berhasil diterapkan, karena pada tahun 1204 tentara Perang Salib Keempat berhasil dielakkan pertahanan tanah Konstantinopel dengan menerobos dinding perlindungan bagian sisi Tanduk Emas. Strategi lain yang digunakan oleh Bizantium adalah perbaikan dan fortifikasi tembok tanah, yaitu Dinding Theodosia. Kaisar Konstantinus XI dianggap perlu memastikan bahwa dinding Kabupaten Blachernae itu adalah yang paling dibentengi karena bagian dinding utara menonjol. Benteng tanah yang terdiri 60 ft (18 m), lebar parit depan yang bertangkup itu pada dinding-dindingnya bagian dalam dan luar diberi jarak setiap 50-60 meter untuk diletakkan di situ menara untuk mengawasi.[37]

Kekuatan

Tentara yang mempertahankan Konstantinopel relatif sedikit; berjumlah kira-kira 7.000 orang, 2.000 orang di antaranya adalah orang asing.[38]Pada awal pengepungan, mungkin 50.000 orang hidup di dekat tembok perlindungan, termasuk para pengungsi dari daerah sekitarnya.[39]Komandan Turki Dorgano, yang berada di Konstantinopel dalam bayaran kaisar, juga menjaga seperempat dari kota di sisi arah laut dengan Turki dalam upahnya.[40] Orang Turki ini tetap loyal terhadap Kaisar dan tewas pada pertempuran berikutnya.
Gambaran modern tentang Mehmed II dan Tentara Utsmaniyah menjelang kejatuhan Konstantinopel, digambar Fausto Zonaro (1854–1929).
Dinasti Utsmaniyah, dilain pihak, memiliki kekuatan yang lebih besar. Menurut studi terbaru dan data arsip Utsmani menunjukkan bahwa ada sekitar 80.000 tentara Utsmaniyah termasuk 5/6.000-10.000 tentara elit Yanisari[3][16][17], dan ribuan pasukan Kristen,[40] yakni 1.500 kavaleri bahwa penguasa Serbia Đurađ Branković diberikan sebagai dari kewajiban untuk sultan Utsmaniyah. Tetapi hanya beberapa bulan sebelumnya, ia telah dibayar untuk memperbaiki dinding Konstantinopel. Saksi Barat kontemporer pengepungan, yang cenderung membesar-besarkan kekuatan Sultan, dengan mengatakan jumlah-jumlah yang banyak dan lebih tinggi mulai dari 160.000-200.000 atau 300.000 orang pasukan.[3] (Niccoló Barbaro: 160.000[41];Jacopo Tedaldi, pedangang Florence[42] dan George Sphrantzes:[18] 200.000; Kardinal Isidor dari Kiev [43] dan Uskup Agung Metilene, Leonardo di Chio:[44] 300,000).[45][46]

Disposisi dan Strategi Turki Utsmani

Mehmed membangun armada untuk mengepung kota dari laut (sebagian diawaki oleh pelaut Yunani dan Gallipoli).[16] Menurut perkiraan kontemporer, kekuatan armada Turki Utsmani adalah terentang 100 kapal (Tedaldi), [42] 145 (Barbaro),[41] 160 (Ubertino Pusculo),[47] 200–250 (Isidore dari Kiev,[43] Leonardo di Chio)[48] hingga 430 (Sphrantzes).[18]Perkiraan modern yang lebih realistis memprediksikan kekuatan armada kapal adalah 126, khusus terdiri dari 6 kapal besar, kapal biasa 10, 15 kapal kecil, 75 perahu dayung besar, dan 20 kuda pengangkut.
Sebelum pengepungan Konstantinopel, diketahui bahwa Kesultanan Utsmaniyah mempunyai kemampuan melemparkan meriam ukuran sedang, tetapi kisaran beberapa bagian mereka dapat mencapai mampu melewati medan yang lebih jauh melampaui harapan orang-orang yang mempertahankan Konstantinopel. Kemajuan Utsmaniyah secara instrumental dalam produksi sosok senjata misterius dengan nama Orban, menurut Hungaria (walapun beberapa pendapat itu dari Jerman).[49] Satu meriam dirancang oleh Orban dinamai "Basilika" mempunyai tinggi yaitu 27 feet (8.2 m) dan mampu melemparkan meriam seberat 600 lb (272 kg) lebih dari 1 mil (1.6 km).[50]

Seorang pembuat bangunan awalnya mencoba untuk menjual jasa kepada Bizantium, yang tidak mampu untuk mengamankan dana yang dibutuhkan untuk mempekerjakan dia. Orban kemudian meninggalkan Konstantinopel dan mendekati Mehmed II, mengklaim bahwa senjata itu bisa dari ledakan dinding sisi Babilonia itu sendiri. Mengingat dana berlimpah dan bahan yang berlimpah juga, insinyur Hungaria membangun senjata dalam waktu tiga bulan di Adrianopel, di mana ia diseret oleh enam puluh lembu ke Konstantinopel. Sementara itu juga, Orban juga menghasilkan meriam instrumental lainnya untuk kekuatan pengepungan oleh pasukan Turki.[51]
Meriam Orban mempunyai beberapa kelemahan, yaitu: butuh 3 jam untuk mengisi kembali meriam itu, suplai meriam Orban sangat singkat, dan meriam itu dikatakan sudah jatuh ketangan lain setelah 6 minggu (tapi, fakta ini diperselisihkan[3], yang dilaporkan hanya dalam surat Uskup Leonardo di Chio[44] dan di dalam surat dan seringkali tidak dapat dipercayai sebuah kronikel Rusia dari Nestor Iskander).[52]Setelah sebelumnya membuat pengecoran besar, kira-kira 150 miles (240 km) jauhnya, Mehmed sekarang sekarang harus menjalani proses melelahkan, yaitu mengangkut potongan-potongan besar artilerinya. Dikatakan, meriam besar Orban mempunyai disertai oleh kru dari 60 ekor sapi dan lebih dari 400 orang .[49]
Mehmed merencanakan untuk menyerang Dinding Theodosia, yang merupakan bagian terumit dari dinding dan parit yang melindungi Konstantinopel dari serangan yang berasal dari arah barat. Pasukannya berkemah di luar kota pada hari Senin setelah Paskah, 2 April 1453.
Sebagian besar pasukan Turki Utsmani berkemah di selatan Tanduk Emas, pasukan Eropa biasa berkemah terbentang di seluruh dinding, yang diperintah oleh Karaja Pasha. Pasukan biasa dari Anatolia di bawah Ishak Pasha di selatan Lycus sampai ke Laut Marmara. Mehmed sendiri mendirikan tenda berwarna merah-emasnya dekat Mesotheichion, di mana senjata dan resimen elit, juga Yanissari, juga diposisikan. Bashi-bazouk tersebar di belakang garis depan pertahanan. Pasukan lain di bawah Zagan Pasha dipekejakan di utara Tanduk Emas. Komunikasi dipertahankan dengan jalan yang dibangun melewati rawa dekat Tanduk Emas.[53]

Disposisi dan Strategi Bizantium

Dinding yang dibuat oleh Kekaisaran Romawi Timur
Kota Konstantinopel mempunyai jarak sekitar 20 km dari dinding (Dinding Theodosia: 5,5 km; dinding laut di sepanjang Golden Horn: 7 km; dinding laut di sepanjang Laut Marmara: 7,5 km) salah satu rangkaian dinding benteng terkuat yang ada pada waktu itu. Dinding itu baru saja diperbaiki (di bawah Yohanes VII Palaiologos) dan dalam kondisi yang cukup baik, memberikan pejuang Konstantinopel alasan yang cukup untuk percaya bahwa mereka bisa bertahan sampai bantuan dari Barat tiba.[54]Selain itu juga, pejuang mempunyai perlengkapan yang relatif baik, yaitu dilengkapi dengan 26 armada: 5 dari Genoa, 5 dari Venesia, 3 dari Venesia-Kreta, 1 dari Ancona, 1 dari Aragon, 1 dari Perancis, dan 10 dari Bizantium itu sendiri.
Pada 5 April, Sultan sendiri tiba bersama tentara terakhirnya, sedangkan para pejuang Romawi Timur mengambil posisi mereka.[55]Sebagaimana mereka cukup untuk menempati dinding secara keseluruhan, sudah diputuskan bahwa hanya dinding luar akan berawak. Konstantinus dan pasukan Yunaninya menjaga Mesoteichion, bagian tengah dinding tanah, di mana mereka dilintasi oleh sungai Lycus. Pada bagian dianggap sebagai titik terlemah pada dinding dan serangan yang paling dikhawatirkan di sini. Giustiniani ditempatkan di utara kaisar di Gerbang Charisia (Myriandrion); kemudian selama pengepungan, ia pindah ke Mesoteichion untuk bergabung bersama Konstantin, meninggalkan Myriandrion untuk mengisi tempat saudara Bocchiardi. Minotto dan orang Venesia-nya ditugaskan di Istana Blachernae, bersama dengan Teodoro Caristo, yaitu saudara Langasco dan Uskup Agung Leonardo di Chio. Di sebelah kiri kaisar, kemudian jauh ke selatan terdapat komandan Cataneo, bersama tentara Genoa, dan Theophilus Palaeologus yang menjaga Gerbang Pegae bersama tentara Yunaninya. Bagian dinding tanah dari Gerbang Pegae dan Gerbang Emas (sendiri dijaga oleh orang Genoa tertentu yang disebut Manuel) yang dipertahankan oleh Filippo Contarini, sementara Demetrius Cantacuzenus mengambil posisi di bagian selatan dinding Theodosia. Dinding laut jarang berawak, dengan Jacobo Contarini di Stoudion, kekuatan pertahanan darurat biarawan Yunani ke tangan kirinya, dan Pangeran Orhan ada di Pelabuhan Eleutherius. Péré Julia ditempatkan di Istana Agung dengan pasukan Genoa; Kardinal Isidore dari Kiev menjaga ujung semenanjung dekat perintang pelabuhan. Dinding laut di selatan pantai Tanduk Emas dipertahankan oleh Venesia dan Genoa di bawah Gabriele Trevisano.

Serangan terakhir

Lukisan oleh pelukis Yunani Theophilos Hatzimihail menggambarkan pertempuran di dalam kota, Konstantinus terlihat menunggangi kudap putih.
Pengepungan Konstantinopel, dibuat 1499.
Persiapan untuk serangan terakhir dimulai pada petang 26 Mei dan berlanjut keesokan harinya.[56] Selama 36 jam setelah dewan perang memutuskan untuk menyerang, Utsmaniyah secara besar-besaran menggerakan tentara mereka untuk oefensif umum.[56] Tentara diberi kesempatan untuk berdoa dan beristirahat pada tanggal 28, dan kemudian serangan terakhir akan dilancarkan. Di pihak Bizantium, suatu armada kecil Venesia dengan 12 kapal, setelah menyusuri Aigeia, tiba di Ibukota pada 27 Mei dan melaporkan kepada Kaisar bahwa tidak ada armada bantuan Venesia yang besar yang akan datang.[57] Pada 28 Mei, ketika Utsmaniyah bersiap untuk serangan terakhir, prosesi keagamaan berskala besar digelar di dalam kota. Saat petang suatu upacara khidmat digelar di Hagia Sophia, di mana Kaisar dan perwakilan gereja Latin dan Yunani ikut serta, bersama-sama dengan kaum bangsawan dari kedua pihak.[58]
Tidak lama setelah tengah malam pada 29 Mei serangan mati-matian dimulai. Pasukan Kristen Kekaisaran Utsmaniyah menyerang pertama kali, diikuti oleh gelombang serangan berturut-turut oleh azap ireguler, yang miskin pelatihan dan perlengkapan, serta pasukan Anatolia yang berfokus pada bagian dinding Blachernai di barat laut kota, yang telah rusak oleh meriam. Bagian ini dibuat lebih tua, pada abad kesebelas, dan jauh lebih lemah. Pasukan Anatolia berhasil menembus bagian dinding ini dan memasuki kota namun dengan cepat dihalau keluar oleh pasukan bertahan. Akhirnya, seiring pertempuran terus berlanjur, gelombang terakhir, yang terdiri atas Yanisari elit, menyerang dinding kota. Jenderal Genoa yang memimpin serangan darat,[3][43][44] Giovanni Giustiniani, terluka parah selama serangan, dan evakuasinya dari benteng memicu kepanikan di kalangan pasukan bertahan.[59] Giustiniani dibawa ke Khios, di mana dia meninggal akibat lukanya beberapa hari kemudian.
Dengan mundurnya pasukan Genoa yang dipminpin Giustiniani ke dalam kota dan menuju pelabuhan, Konstantinus dan pasukannya, kini tinggal berjuang sendirian, terus bertempur dan mampu menahan Yanisari untuk sementara, tapi akhirnya mereka tidak mampu menghentikan Yanisari memasuki kota. Pasukan bertahan juga kewalahan di beberapa titik di bagian Konstantinus. Ketika bendera Utsmaniyah berkibar di atas sebuah gerbang belakang kecil, Kerkoporta, yang terbuka, kepanikan merebak, dan pertahanan pun runtuh, seiring Yanisari, yang dipimpin oleh Ulubatlı Hasan terus menekan. Tentara Yunani berlarian ke rumah untuk melindungi keluarga, tentara Venesia berlarian ke kapal-kapal mereka, dan beberapa tentara Genoa melarikan diri ke Galata. Sisanya bunuh diri dengan melompat dari dinding kota atau menyerah.[4] Rumah-rumah Yunani yang paling dekat dengan kota adalah yang pertama mengalami penyerangan oleh Utsmaniyah. Disebutkan bahwa Konstantinus, melepaskan regalia ungunya, memimpin serangan terakhir terhadap pasukan Utsmaniyah yang berdatangan, dan meninggal dalam bentrokan yang terjadi di jalanan besama para tentaranya. Di pihak lain, Nicolò Barbaro, seorang saksi mata Venesia selama pengepungan, menulis dalam buku hariannya bahwa dikatakan bahwa Konstantinus gantung diri ketika Utsmaniyah menembus gerbang San Romano, meskipun nasib akhirnya tak diketahui.[60]
Setelah serangan awal, pasukan Utsmaniyah menyebar di sepanjang kalanan kota, Mese, melewatkan forum-forum besar, dan melewatkan Gereja Rasul Suci, yang diinginkan oleh Mehmed II untuk dijadikan tempat kedudukan patriark yang akan ditunjuknya, yang akan membantunya untuk lebih baik dalam mengendalikan rakyat Kristennya. Mehmed II telah mengirim tentara untuk melindungi bangunan-bangunan penting seperti gereja tersebut.
Sedikit penduduk sipil yang beruntung berhasil kabur. Ketika orang Venesia melarikan diri ke kapal-kapal mereka, Utsmaniyah telah merebut dinding Tanduk Emas, namun tentara Ustmaniyah tidak membunuh mereka karena lebih tertarik untuk menjarah rumah-rumah di kota. Akibatnya, Tanduk Emas diabaikan sehingga orang Venesia mampu selamat. Kapten Venesia memerintahkan anak buahnya untuk mendobrak gerbang Tanduk Emas, lalu mengisi kapal dengan tentara Venesia dan pengungsi dari kota. Segera setelah mereka pergi, beberapa kapal Genoa dan bahkan kapal Kaisar mengikuti mereka keluar dari Tanduk Emas. Tak lama setelah itu, Angkatan Laut Utsmaniyah kembali menguasai Tanduk Emas pada tengah hari.[4]
Pasukan Utsmaniyah mendatangi Augusteum, lapangan luas di depan gereja Hagia Sophia yang gerbang perunggunya dihalangi oleh kerumunan pendduk sipil di dalam bangunan, meminta bantuan tuhan. Setelah pintunya didobrak, tentara Utsmaniyah memisahkan orang-orang berdasarkan kemungkinan harga mereka di pasar budak. Mehmed II mengizinkan pasukannya menjarah kota selama tiga hari sesuai adat.[61] Para tentara memperebutkan sejumlah rampasan perang.[62] Menurut ahli bedah Venesia Nicolò Barbaro "sepanjang hari pasukan Turk membantai banyak sekali orang Kristen di seluruh kota". Menurut Philip Mansel, ribuan penduduk sipil dibunuh dan 30.000 penduduk sipil diperbudak atau diusir.[63] Suatu catatan saksi mata, yang muncul di buku They Saw It Happen in Europe 1450-1600 (1965) karya C.R.N. Routh, menceritakan sebagai berikut:

Queen Anne Boleyn



Anne Boleyn (antara 1530-1536.)
Anne Boleyn adalah Ratu Inggris dari tahun 1533 - 1536 dan istri dari Raja Henry VIII. Dia merupakan Ratu Inggris pertama yang dihukum mati di depan umum. Kisah tragis mengenai kehidupan Anne Boleyn sering digunakan sebagai inspirasi dari cerita maupun film.[1] Di dalam sejarah Inggris, Anne Boleyn adalah salah satu wanita yang paling kontroversial karena dikagumi sekaligus dicaci-maki oleh masyarakat.[2]

Daftar isi

Masa Kecil

Anne Bolyne merupakan anak dari seorang diplomat bernama Thomas Boleyn dan Elizabeth (putri dari Duke of Norfolk). Tidak ada catatan yang jelas mengenai tahun kelahiran Anne, namun diperkirakan dia lahir antara tahun 1501-1507. Masa kecil dan remaja Anne dihabiskan di Eropa dan diisi dengan menjadi pendamping dari Archduchess Margaret di Belanda. Pada tahun 1514, Anne menjadi pendamping dari Ratu Mary, adik dari Raja Henry VIII. Setelah itu, Anne juga sempat menjadi pendamping Ratu Claude dari Perancis selama hampir tujuh tahun. Sebagai pendamping, tugas Anne adalah menemani ratu dalam berbagai acara kerajaan.[2]

Hubungan dengan Henry Percy

Pada tahun 1522, Anne Boleyn kembali ke Inggris dan menjadi pendamping dari Catherine dari Aragon, istri Henry VIII. Penampilan dan sopan santun Anne mengundang banyak kekaguman di dalam istana. Di saat itu, Henry VIII berselingkuh dengan saudara perempuan Anne, yaitu Mary Boleyn. Namun saat itu Mary masih berusia terlalu muda untuk dinikahi dan memberikan keturunan laki-laki bagi Henry VIII. Raja Henry VIII memberikan banyak hadiah dan gelar kepada Anne dan keluarganya. Ayah Anne diangkat menjadi Earl of Witshire dan adik lelakinya, Lord George Rochford, menjadi penjaga ruang rahasia kerajaan.[2]
Pada usia 21 atau 22 tahun, Anne jatuh hati dengan seorang pekerja kerajaan yang bernama Henry Percy. Pada tahun 1522, mereka bertunangan secara diam-diam karena Percy telah bertunangan dengan orang lain. Namun, pertunangan Anne dan Percy dibatalkan oleh Kardinal Wolsey, pejabat penting dalam pemerintahan Inggris, dan dengan intervensi dari Raja Henry VIII. Percy dilarang untuk menemui Anne dan Anne pun dilarang masuk ke dalam kerajaan hingga tahun 1524/1525.[3]

Perkawinan dengan Henry VIII


Henry VIII dan Anne Boleyn
Ketika Henry VIII lelah menunggu istrinya yang tidak kunjung memberikan keturunan laki-laki, dia meminta Paus Klemens VII untuk mencabut pernikahan pertamanya sehingga dia dapat menikahi Anne Boleyn. Paus menolak keinginan tersebut karena dia takut melawan kekuasaan Kaisar Roma, Charles V, yang merupakan keponakan Catherine dari Aragon.[2]
Pada awalnya, Anne menghindar dari Raja Henry VIII, namun pada tahun 1533, dia mengandung anak pertamanya dengan raja. Pada Januari 1533, Henry VIII memutuskan hubungan dengan Gereja Katolik dan menikahi Anne dalam suatu upacara rahasia. Dia mengumumkan suatu akta supremasi yang menyatakan dirinya menjadi kepala gereja Inggris. Di bulan Juni 1533, Anne dinobatkan menjadi Ratu Inggris dalam suatu upacara mewah di Westminster Abbey.[2]
Anak pertama Henry dan Anne dilahirkan pada September 1533 dan kelak menjadi Ratu Elizabeth I. Anne sempat mengalami dua kali keguguran pada musim panas tahun 1534 dan 1536. Saat kehamilan keduanya berusia 15 minggu, Anne mendapatkan informasi bahwa Henry VIII mengalami luka parah di dalam suatu turnamen. Anne sangat syok mendengar berita tersebut dan akhirnya mengalami keguguran anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki di hari yang sama dengan pemakaman Catherine, istri pertama Henry VIII. Henry yang putus asa menginginkan anak laki-laki kemudian berselingkuh dengan Jane Seymour, salah satu pendamping Anne Boleyn.[4]

Hukuman Mati

Agar dapat menikahi Jane Seymour, Raja Henry VIII mencari cara untuk menyingkirkan Anne Boleyn dengan menuduhnya melakukan perselingkuhan. Untuk merekayasa perselingkuhan tersebut, Henry VIII dibantu oleh Thomas Cromwell, orang kepercayaan raja dan politisi modern yang bertentangan dengan Gereja Katolik.[5] Thomas menulis surat kepada Percy untuk memaksa Percy mengakui hubungannya dengan Anne Boleyn masih berlangsung dan mereka berdua memiliki perjanjian pra-nikah. Namun, Percy tidak memberikan jawaban apapun yang memberatkan Anne.[6]
Di bulan April 1536, Sir Francis Weston, William Brereton, Mark Smeaton, Sir Henry Norris dan adik Anne, Lord Rochford, ditangkap dengan tuduhan memiliki hubungan gelap dengan Ratu Anne Boleyn. Selain itu, Anne juga diperiksa oleh komisi rahasia yang terdiri dari ayahnya sendiri, pamannya, dan Thomas Cromwell. Pada 2 Mei 1536, Anne ditangkap dan dinyatakan bersalah atas tuduhan memiliki hubungan gelap dengan lima pria, termasuk adik laki-lakinya sendiri.[2]
Di dalam persidangan yang dipimpin oleh pamannya sendiri, Duke of Norfolk, Anne dinyatakan bersalah karena perselingkuhan dan melakukan sihir. Keyakinan Anne melakukan sihir atau penyembah setan juga dianggap diperkuat dengan fisiknya yang unik karena memiliki 6 jari pada salah satu tangan dan tahi lalat yang besar di bagian leher.[1] Percy yang menghadiri persidangan tersebut jatuh pingsan setelah mendengar hukuman yang akan diterima oleh Anne.[6] Ratu Anne selanjutnya dipenjara di Menara London. Dari sana, dia digiring ke Menara Hijau (Tower Green) untuk dipenggal dengan pedang. Anne takut dengan kapak sehingga untuk pemenggalan tersebut, didatangkan dua orang Perancis yang ahli dalam mengeksekusi mati dengan pedang.[3]
Pada saat-saat terakhirnya, Anne memberikan pidato yang berisi pujian terhadap Raja Henry VIII yang menyatakan bahwa Raja merupakan seorang yang baik, lembut, dan berdaulat.[2]

Rabu, 06 Mei 2015

Film : Unbroken (2014)

Movie Review: Unbroken (2014)

"If you can take it, you can make it."

Pernyataan terkait keinginannya untuk pensiun dari dunia film sebagai aktris tentu saja menjadikan kita semakin yakin bahwa Angelina Jolie sudah jatuh cinta untuk berkarya di balik layar sebagai sutradara, profesi yang sudah ia mulai tiga tahun yang lalu. Ada sebuah pertumbuhan yang menarik dari seorang Angelina Jolie di film keduanya sebagai sutradara ini namun sayangnya ibarat seorang pematung ia merupakan sosok yang mampu mengolah sebongkah kayu menjadi berbagai bentuk yang menarik tapi celakanya ia belum mampu memolesnya untuk tampak menarik dan memikat dalam jangka waktu yang lama. Unbroken, a stiff biography which can't toying his audience.


Di masa kecilnya Louis Zamperini (Jack O'Connell) merupakan anak laki-laki yang terbilang nakal, sering membuat kekacauan, mencuri dan merokok, hingga mengintip rok anak perempuan. Tapi kelakuannya yang terakhir tadi justru menjadikan bakat dari pria dengan nama panggilan Louie ini menangkap atensi keluarganya. Dengan dorongan dari abangnya Louie  memutuskan untuk menjadi seorang pelari dan hebatnya bakat yang berhasil membawanya menuju Olimpiade dan meraih julukan sebagai “The Torrance Tornado”, meskipun pecahnya Perang Dunia II menjadi penghalang yang memaksanya untuk bergabung dengan Angkatan Udara. 

Di profesi barunya itu Louie dengan cepat memperoleh teman baru, Russell "Phil" Phillips (Domhnall Gleeson), Francis "Mac" McNamara (Finn Wittrock), dan Charlton Hugh Cupernell (Jai Courtney). Namun celakanya mereka pula yang membawa Louie kedalam masalah baru ketika pesawat yang mereka katakana layak terbang untuk digunakan dalam operasi search and rescue mengalami kerusakan pada mesin dan menyebabkan mereka terombang-ambing di Samudra Pasifik. Tapi sudah jatuh masih pula tertimpa tangga, setelah mengalami kecelakaan Louie dan teman-temannya kini berada didalam kekuasaan tentara Jepang yang meskipun memberikan pertolongan namun dibawah komando Mutsuhiro Watanabe (Miyavi) tetap menaruh curiga pada mereka.


Setiap tahunnya pasti akan selalu ada film dengan tipikal seperti ini, film yang memiliki komposisi awal sangat menjanjikan baik itu dari segi sutradara, penulis, cerita, hingga para pemeran serta sosok-sosok lain di divisi teknis, akhirnya menjadikan banyak orang mulai mengantisipasinya dan tenggelam dalam hype, namun ketika ia benar-benar muncul boom hiburan yang ia berikan terasa tidak istimewa. Oscar bait, begitu panggilan yang akrab digunakan oleh para moviegoers, film yang disokong dengan hype tinggi dengan incaran utama tentu saja menjadi bagian besar dari ajang-ajang penghargaan di akhir tahun. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut dan jika menilik komposisi dasar film ini juga sangat layak untuk mencoba melakukan hal tadi namun yang menjadi masalah adalah ia tidak berakhir di posisi teratas. Tengah? Urgh, mungkin hampir.

Dengan durasi dua jam lebih yang ia miliki Unbroken kurang berhasil memberikan hiburan yang sesuai dengan materi yang ia miliki. Ada Angelina Jolie di posisi terdepan sebagai senjata utama, kemudian ia juga punya Richard LaGravenese dan William Nicholson, dua penulis dengan nominasi Oscar di kantong mereka, dan semua semakin menjanjikan ketika Joel Coen dan Ethan Coen masuk kedalam  tim untuk memberikan sentuhan di naskah setelah Jolie bergabung. Hanya itu? Tidak, di score ia punya Alexandre Desplat, dan itu semakin lengkap karena tatanan visual berada di tangan Roger Deakins, serta editing berada di bawah kendali dua sosok yang pernah ambil bagian di Argo, Zero Dark Thirty, Life of Pi, hingga Transformers. Terus apa gunanya membahas hal-hal teknis tadi? Karena apa yang mereka berikan secara individual pada dasarnya tidak mengecewakan, namun cara Angelina Jolie mengendalikan mereka yang terasa mengecewakan.


Membosankan? Mungkin. Monoton? Ya. Ini seperti menyaksikan dongeng tentang putri salju tanpa didampingi tujuh kurcaci, menarik tapi tidak mampu menjadikan objek yang ia gambarkan terus menerus mencuri perhatian. Kita punya alur maju dan mundur disini yang pada dasarnya dapat dimanfaatkan untuk menampilkan dramatisasi yang lebih baik lagi, tapi celakanya disini ia hanya berfungsi sebagai sebuah media yang menyampaikan hubungan sebab akibat. Babak awal terhitung oke tapi setelah itu sulit untuk merasakan urgensi dalam cerita, Jolie terasa kurang tangkas dan cekatan dalam mempermainkan materi-materi lezat yang ia miliki. Terlalu kaku dan kemudian salah fokus, mungkin itu dua masalah utamanya, Jolie seperti ingin bercerita banyak termasuk dengan highlights untuk menangkap perjuangan yang dilakukan oleh Zamperini, itu berhasil tapi celakanya tidak meninggalkan kita sesuatu yang benar-benar menakjubkan.

Bukan berarti saya tidak menghargai rasa percaya diri dari seorang Angelina Jolie untuk kembali mencoba mengendalikan sebuah film, bahkan di percobaan keduanya ini ia menunjukkan sebuah pergerakan ke arah positif, tapi sayangnya ia memilih proyek yang salah. Unbroken punya materi yang masih terlalu berat untuk di tangani oleh seorang Angelina Jolie, dan hasilnya ia gagal menjadi sebuah biografi yang meskipun tidak mampu menginspirasi tapi at least harus mampu meninggalkan semangat perjuangan yang menarik. Cerita yang bergerak maju dan mundur tidak begitu buruk, bahkan dari segi visual ia juga sangat mudah untuk di nikmati dan di kagumi, namun setelah pembukaan yang menarik itu Unbroken tidak berkembang dengan baik, karakter dan cerita terasa stuck, banyak momen yang terasa monoton bahkan hambar, ada grafik menurun yang konsisten hingga mencapai titik akhir yang juga tidak berhasil meninggalkan dampak yang besar.


Mungkin hal menarik lainnya dari film ini di luar nilai positif dari beberapa elemen teknis adalah penampilan Jack O'Connell. Dari segi karakterisasi mungkin tidak ada sebuah gebrakan baru yang Jack tampilkan disini karena dari This Is England, Skins, hingga yang terbaru Starred Up sudah cukup hafal bahwa peran keras dan pemberontak merupakan makanan lezat baginya. Yang menarik perhatian adalah kemampuannya untuk terus menjaga perhatian penonton pada karakter Louie dibalik “kekacauan” yang terjadi di sekitarnya. Beberapa peristiwa tentang kehidupan seorang Louie berhasil ditampilkan dengan baik oleh Jack O'Connell meskipun memang kesan penting dari apa yang ia alami itu tidak terbakar dengan baik karena tidak mampunya Angelina Jolie mengatur dinamika cerita, terkesan terburu-buru di satu bagian yang memerlukan kedalaman tapi justru memilih berlama-lama di bagian yang tidak membutuhkan kedalaman yang berlebihan.


Overall, Unbroken adalah film yang kurang memuaskan. Visi menjadi masalah utama dimana walaupun telah menunjukkan pertumbuhan yang positif sebagai sutradara namun disini Angelina Jolie masih kaku dan bingung pada seperti apa kisah ini ingin ia sampaikan sehingga menyebabkan petualangan yang seharusnya meninggalkan kesan mendalam terkait kehidupan ini seperti menyia-nyiakan materi empuk yang ia miliki sejak awal. Tidak ada kesalahan fatal dari segi teknis bahkan berhasil menyelamatkan film ini dari jurang kehancuran total, tapi eksekusi yang tampak bermain aman dan terasa kurang bertaji dari seorang Angelina Jolie menjadikan Unbroken berakhir sebagai biografi yang terasa biasa saja, lemah di visi dan miskin imajinasi dan sensasi.


Film : The Other Boleyn Girl




Thomas Boleyn (Mark Rylance) adalah seorang ayah dari 3 anak. Anne Boleyn (Natalie Portman) yang periang dan suka mencari tantangan, Mary Boleyn (Scarlett Johannson) pendiam dan penurut dan selalu berada di bawah bayang-bayang Anne yang dominan. dan George Boleyn (Jim Sturgress ). Ia dan ketiga anaknya, tinggal bersama istrinya Elizabeth (Kristin Scott Thomas) di sebuah desa.
Thomas memiliki seorang adik ipar bernama Thomas Howard, seorang bangsawan yang bergelar Duke of Norfolk yang licik dan sangat berambisi untuk bisa menjadi bangsawan kaya raya. Dia selalu menghasut abang iparnya agar mencari jodoh pria-pria kaya untuk kedua anak gadisnya yang cantik jelita. Setiap keluarga menggunakan anak mereka untuk bisa meraih status social yang lebih tinggi di masa itu. Akhirnya, Mary dilamar oleh William Carey (Benedict Cumberbatch), seorang anak pedagang kaya. Pernikahannya dilaksanakan dengan meriah dan Mary sangat mencintai pria itu.

Sementara itu, di istana, permaisuri Katherine of Aragon (Ana Torrent) menderita tekanan batin karena tidak bisa memberikan keturunan laki-laki sebagai pewaris kerajaan. Anak yang terakhir dilahirkannya yang berjenis kelamin lelaki, tapi sayangnya meninggal.. Raja Henry VIII (Eric Bana), sangat marah dan kecewa karena itu. Dia sudah terlalu lama menunggu hadirnya seorang putera sebagai pewaris kerajaannya. Akibatnya, hubungan antara Raja dan Ratu mulai memburuk. Duke of Norfolk melihat hal ini sebagai kesempatan untuk bisa meraih impiannya. Dia beranggapan kalau raja akan segera mencari hiburan dengan mengambil seorang gundik. Kemudian dia menghasut abang iparnya itu, mulai berancang-ancang untuk menyodorkan putri sulungnya yang belum menikah, Anne sebagai salah satu calon gundik raja.

Tujuannya tak lain agar derajat nya bertambah dan kekayaan mereka bertambah. Ayahnya setuju, lalu membujuk Anne agar mau mencoba, sebelum keluarga-keluarga bangsawan lainnya menyadari. Awalnya Anne tidak setuju, tapi ayahnya membujuk dengan setengah memaksa. Agar keluarga mereka bisa kaya dan naik statusnya. Thomas juga berhasil memaksa istrinya menyetujui rencananya, untuk menyelenggarakan pesta di rumah mereka dengan tujuan untuk memancing perhatian raja kepada Anne yang cantik. Istrinya mula-mula tidak setuju, karena untuk mengundang raja akan butuh biaya pesta yang sangat besar, tapi Thomas tetap memaksa. Didukung oleh Thomas Howard.

Anne yang mula-mula tidak setuju, akhirnya mengalah dan bertekad untuk bisa melaksanakan tugas yang diberikan ayahnya, untuk menundukkan raja Inggris, itu dengan baik. Dia menjadikan tugas itu sebagai tantangan yang menarik.

Akhirnya raja pun datang berkunjung untuk memenuhi undangan pesta keluarga Boleyn. Lengkap dengan sepasukan besar prajurit pengiringnya. Seluruh keluarga itu bersiap-siap menyambutnya. Dan Thomas pun memperkenalkan Anne, tapi mengabaikan Mary, karena dia sudah menikah. Ibunya hanya bisa memandang sedih melihat putri mereka diperlakukan seperti dagangan oleh ayahnya.

Keesokan harinya, raja mengadakan perburuan. Anne juga ikut dengan menunggang kudanya sendiri. Raja memandangnya dengan heran. Karena hal seperti itu tidak lazim pasa masa itu. Tapi ternyata perburuan itu membawa bencana. Raja terluka, ketika berusaha menolong Anne. Padahal Anne sangat mahir dalam berburu. Jadi, Anne selamat dan Raja terluka. Akibatnya, harga diri Raja sangat terluka.

Thomas Howard lalu menghasut abang iparnya agar menyodorkan Mary saja, karena takut Raja sudah membenci Anne karena kejadian itu. Maka Mary pun diminta merawat luka-luka raja. Dengan malu-malu dan risih, Mary menerima. Karena sebenarnya dia sudah berstatus istri orang. Dan ternyata, raja lebih terpesona kepada Mary dan memintanya untuk bekerja sebagai dayang di istana. Semua orang memahami, bahwa itu artinya dia ingin mengangkat Mary sebagai gundik. Sementara suaminya ditugaskan sebagai dewan penasihat raja. William setuju dengan berat hati karena dipaksa oleh Duke Norfolk, dan tidak bergeming bagaimanapun Mary membujuknya agar menolak tawaran itu. Mary meminta agar Anne saja yang dikirim. Tapi, ayahnya memaksa agar ia juga ikut pergi ke istana.

Sementara Anne sendiri jadi membenci Mary. Dia menganggap adiknya itu telah merebut calon suaminya. Dia tidak perduli ketika Mary berusaha membantah hal itu. Dan menjelaskan bahwa kebetulan memang raja menginginkan seorang wanita yang pendiam dan penurut seperti dirinya. Tidak seperti Anne yang riang dan mandiri, dan seperti tidak membutuhkan bantuan laki-laki.

Akhirnya Mary dan Anne pun dikirim untuk bekerja di istana dan bekerja sebagai dayang permaisuri. Permaisuri yang terkejut menerima kedatangan mereka. Dan segera menyadari kalau raja menginginkan Mary menjadi gundiknya. Dan dia tidak menyukainya, tapi tidak menganggap Mary sebagai ancaman. Karena pembawaannya yang pendiam dan lugu.

Di istana, William pura-pura menutup mata dan tidak mengetahui kalau istrinya tidur dengan raja. Dia sendiri merasa kalau suasana istana ini tidak menyenangkan untuknya.
Begitu ayah dan pamannya meyakini kalau raja sudah sangat terpesona dengan Mary, mereka mulai mempersiapkannya sebagai pengganti permaisuri. Perlahan-lahan, Mary juga mulai menyenangi hubungannya dengan raja itu. Dan tidak perduli lagi dengan suaminya. Dan William pun ditugaskan ke tempat yang jauh dari istana.

Sementara itu, karena putus asa Anne menikah diam-diam dengan Henry Percy (Oliver Coleman), seorang bangsawan yang telah bertunangan dengan Mary Talbot (Tiffany Freisberg). Dengan tujuan, agar ia bisa memperoleh status sebagai istri bangsawan. Mary memberitahukan hal ini kepada ayahnya. Ayah dan pamannya sangat marah. Pernikahan itu dianggap tidak sah dan mengirim Anne ke Prancis untuk diasingkan. Dan Anne sangat membenci Mary karena membocorkan berita ini kepada ayah mereka.

Akhirnya Mary menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dengan gembira raja menyampaikan sendiri kabar ini kepada Thomas Boleyn. Sebagai hadiah, keluarga mereka mendapat kenaikan status, ayahnya mendapat gelar Earl, abangnya mendapat gelar Viscount dan mereka diberi sebuah istana. Ayahnya memutuskan bahwa George akan dijodohkan dengan Jane Parker (Juno Temple), yang masih kerabat dekat raja. Hal ini untuk semakin memantapkan posisi mereka di istana. George menolak karena ia tidak mencintainya tapi akhirnya terpaksa menuruti kehendak ayahnya.

Ternyata rahim Mary lemah, anak yang dikandungnya hampir saja gugur. Maka untuk menghindari hal itu, tabib istana memutuskan kalau ia pun harus dipingit dan tidak bisa tidur bersama raja. Hal ini meresahkan pamannya, mengingat tabiat Henry yang senang bergonta-ganti wanita. Mereka mencari cara agar perhatian raja tidak teralih kepada wanita lain.

Dengan itu, Thomas Boleyn meminta Anne kembali dari Prancis, sesuai dengan saran Lord Norfolk. Anne ditugaskan untuk menghibur raja sekaligus menjaga agar perhatiannya tetap tercurah kepada Mary, selagi dia terpingit untuk menjaga kandungannya. Anne melihat hal ini sebagai kesempatan baginya, untuk mengambil alih posisi adiknya, Mary.

Di Prancis, Anne telah belajar bagaimana caranya menjadi wanita bangsawan yang pintar menarik perhatian pria. Seorang wanita mandiri yang tahu bagaimana caranya membuat pria tersanjung dan sekaligus mampu memahami politik dan intrik istana. Perubahan sikapnya telah membuat raja telah memaafkan perbuatannya dulu dan menerimanya kembali di istana.

Mary yang mengetahui kabar ini menjadi resah. Karena dia mengetahui apa yang bisa dilakukan Anne untuk merebut perhatian Raja darinya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sedang dipingit, untuk menjaga kehamilannya. Dan Raja yang kesepian karena tidak bisa bertemu dengan istrinya, perlahan-lahan mulai terpikat pada sosok Anne yang menarik. Dengan kelihaiannya, Anne berusaha memikat Raja. Lalu Henry mengirimkan sebuah bros permata untuk Anne, dengan harapan Anne bersedia menyerahkan dirinya kepada Raja. Anne yang punya rencana licik, mengirimnya kembali kepada raja. Henry semakin penasaran dan bersedia melakukan apapun, agar Anne mau tidur dengannya.

Sementara itu, hubungan Anne dan Mary semakin memburuk. Anne mengunjungi kamar Mary dan menggunakan kesempatan itu untuk membuat Mary kesal. Ia mengatakan kalau Raja sedang mengejar-ngejar dirinya dan tidak memperdulikan keadaan Mary yang sedang dipingit.

Akhirnya Mary melahirkan anaknya. Ketika proses itu sedang berlangsung, Henry berlutut di hadapan Anne dan menyatakannya sebagai cinta sejatinya. Dengan berjanji, bahwa ia tidak akan berbicara atau berhubungan dengan Mary ataupun permaisuri lagi. Hanya dengan Anne. Asalkan Anne mau berhubungan dengannya. Ia bahkan mengambaikan anak Mary dan pergi begitu saja.
Paman dan ayahnya sangat marah melihat hal itu. Dan dengan kejam, Anne memberitahu Mary kalau ia dan bayi haramnya akan dikirim ke kampung halamannya. Dan raja menyetujuinya.

Anne mempunyai harapan yang lebih tinggi dari Mary. Kalau Mary sudah bahagia hanya dengan menjadi gundik raja, Anne ingin menjadi permaisuri dan menyingkirkan ratu yang masih hidup saat itu. Ratu Katherine memandangi kepergian Mary dari jendela. Ia menyadari ada hal lain yang akan terjadi. Setelah kepergian Mary, raja kembali menanyakan apakah Anne akan bersedia tidur dengannya.

Anne mengajukan syarat, bahwa ratu Katherine harus disingkirkan dari istana. Bahwa Raja harus mengirim Ratu Katherine ke biara. Dan ia ingin menikah secara resmi dengan Henry. Hal itu sebenarnya tidak mungkin, karena raja hanya bisa memiliki seorang istri sah. Anne menyarankan agar raja menceraikan Ratu Katherine.

Tiba-tiba, raja menerima sebuah surat dari Mary Talbot yang berisi pengajuan cerai, karena suaminya, Henry Percy diketahui telah tidur dengan Anne Boleyn, sebelum menikah dengannya. Raja sangat marah. Dia tidak mau bertemu dengan siapapun dari keluarga Boleyn, kecuali Mary yang sangat dipercayainya. Anne berusaha membujuk Mary agar mau berbohong deminya, dan membantah hal itu. Mary bersedia. Anne sangat berterimakasih. Tapi Mary mengatakan kalau ia hanya melakukan hal itu sebagai tawaran berdamai dengan saudarinya. Dan Anne meminta agar Marypun kembali tinggal di istana.

Pengadilan terhadap Ratu Kathernie pun dilakukan, dengan tujuan untuk mengirim ratu ke biara. Tapi Ratu menolak pengadilan itu dan menuntut untuk bicara langsung kepada Paus. Tapi tetap saja raja mengirimnya ke biara. Dan mengabaikan risiko bahwa Inggris akan dikucilkan Katolik dan terancam dikuasai Protestan. Raja yang sudah terpikat dengan Anne, akhirnya menyetujui saja semua persyaratan Anne, asalkan ia bersedia tidur dengannya.

Anne dan Henry pun menikah, dan Anne diangkat menjadi ratu. Tapi dia tidak bisa melahirkan seorang putera juga. Anak pertamanya perempuan, diberi nama Elizabeth. Ketika itu, Raja sudah mulai kehilangan perhatian padanya dan mendekati wanita lain, Jane Seymour (Corinne Galloway). Dia berusaha untuk hamil lagi. Namun kali ini, Anne mengalami keguguran. Karena ketakutannya, Anne meminta agar saudaranya, George tidur dengannya agar dia bisa hamil lagi, sebelum raja mengetahui tentang keguguran yang dialaminya.

Mary begitu terkejut dan kecewa melihat keinginan Anne, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkan istana malam itu juga. Sambil berdoa agar Tuhan memafkan dosa besar yang akan diperbuat abang dan kakaknya. Tanpa sepengatahuan mereka, Jane Parker melihat Anne dan George berduaan di tempat tidur. Walaupun sebenarnya tidak terjadi apa-apa, karena George tidak mampu memenuhi keinginan Anne.

Tapi, Jane yang merasa ditelantarkan oleh George, mengadukan perbuatan ini kepada raja. Raja sangat murka dan meminta agar Anne segera diadili dengan tuduhan melakukan incest. Pamannya, Lord Norfolk termasuk salah seorang dari bangsawan yang menyatakan Anne bersalah dan dihukum pancung.

George mendapat hukuman pancung terlebih dahulu, menyusul kemudian Anne. Meskipun Mary datang menghadap Raja, untuk memohon agar saudarinya itu dibebaskan, tapi raja tidak mengabulkannya. Anne tetap dihukum pancung, dan Mary diusir dari istana. Dia tidak diperbolehkan lagi datang, kalau ia datang, maka ia akan dihukum juga.

Setelah pemancungan itu, Mary membawa putri Anne, Elizabeth, pergi dari istana. Sir Thomas Boleyn meninggal karena malu dan sedih dua anaknya tewas dihukum pancung. Sementara pamannya, Lord Norfolk, dipenjara. Sejarah mencatat, tiga keturunannya, anak-cucu-cicit, tewas dipancung karena kasus penghianatan.

Mary Boleyn menikah lagi dengan William Stattford dan memilih untuk tinggal di desa, membesarkan putranya dan putri Anne, Elizabeth.Elizabethlah yang kemudian akan memerintah Inggris selama 45 tahun.

 

Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Al-Fatih

Kejatuhan Konstantinopel (bahasa Turki: İstanbul'un Fethi) adalah penaklukan ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, yang terjadi setelah pengepungan sebelumnya, di bawah komando Sultan Utsmaniyah yang berumur 21 tahun, yaitu Muhammad al-Fatih, melawan tentara bertahan yang dikomandoi oleh Kaisar Bizantium Konstantinus XI. Pengepungan berlangsung dari Jumat, 6 April 1453- Selasa, 29 Mei 1453 (berdasarkan Kalender Julian), ketika kota itu ditaklukkan oleh Utsmaniyah.
Penaklukan Konstantinopel (dan dua wilayah pecahan lainnya segera setelah itu Bizantium) menandai berakhirnya Kekaisaran Romawi, sebuah negara yang telah berlangsung selama hampir 1.500 tahun, itu juga merupakan pukulan besar untuk Kristen. Intelektual Yunani dan non-Yunani Beberapa meninggalkan kota sebelum dan sesudah pengepungan, migrasi terutama ke Italia. Dikatakan bahwa mereka membantu penanda dimulainya Renaisans. Itu juga merupakan beberapa tanda akhir Abad Pertengahan oleh jatuhnya kota dan kekaisaran.[29]
Pergantian kekuasaan dari Kekaisaran Romawi Timur kepada Kesultanan Utsmaniyah ini menyebabkan jalur perdagangan antara Eropa dan Asia Barat di Laut Tengah terputus. Orang-orang Eropa tidak lagi datang ke Konstantinopel dan Venesia yang merupakan pelabuhan transit dalam perdagangan antara Asia dan Eropa. Persediaan rempah-rempah untuk dunia Kristen yang dulunya bisa didapatkan di Konstantinopel tidak tersedia lagi karena konflik antar agama Kristen dan Islam. Para pedagang terpaksa mencari jalur lain ke sumber rempah-rempah dan hal tersebut membawa bangsa Eropa ke kepulauan Nusantara yang pada akhirnya membuat bangsa Belanda menjajah Nusantara selama 350 tahun lamanya.
Kemunduran perdagangan di Laut Tengah juga berdampak terhadap perekonomian. Wilayah di sekitar Laut Tengah yang semula ramai dikunjungi para pedagang dari timur yang membawa rempah-rempah jadi sepi. Hal ini menyebabkan keguncangan perekonomian di sekitar Laut Tengah (Mediterania).

Persiapan

Peta Kekaisaran Romawi Timur yang semakin kecil akibat ditaklukkan terus menerus oleh Kesultanan Utsmaniyah sebelum Konstantinopel ditaklukkan.
Ketika Sultan Murad II digantikan oleh anaknya Mehmed II pada awal 1451, secara luas bahwa sultan muda baru, yang saat itu berumur 19 tahun, akan menjadi penguasa yang belum mampu dan tidak menimbulkan ancaman besar bagi kedudukan Kristen di Balkan dan Aegea. [30]Keyakinan ini diperkuat oleh utusan yang dikirim kepada Mehmed kepadanya pada awal pemerintahan.[31]Ketika musim semi dan musim panas 1452, Mehmed II, yaitu buyut dari Bayezid I sudah membangun benteng di dekat Bosphorus di sisi Asia yang disebut Anadolu Hisarı yang sekarang dibangun benteng kedua beberapa mil di utara Konstantinopel di sisi Eropa, tepat di seberang selat dari Anadolu Hisarı yang akan menaikkan pengaruh Turki di selat itu.[31] Adapun aspek terutama yang relevan dari benteng ini adalah kemampuannya untuk mencegah bantuan dari koloni Genoa di pantai Laut Hitam dari mencapai kota. Benteng ini disebut dengan Rumeli Hisarı, Rumeli dan Anadolu menjadi nama-nama bagian Eropa dan Asia dari Kesultanan Utsmaniyah, masing-masing. Benteng baru ini juga diketahui sebagai Boğazkesen, yang memiliki makna, yaitu pemblokir-selat yang menekankan posisi strategis. Nama Yunani benteng itu adalah, Laimokopia yang juga menyandang makna ganda yang sama. Pada Oktober 1452, Sultan Mehmed II memrintahkan Turakhan Beg dan anaknya, Ahmad dan Omar untuk memimpin kekuatan besar untuk Peloponesia dan tetap ada sepanjang musim dingin untuk menjaga para lalim Thomas dan Demetrios dari membantu saudara mereka, Konstantinus selama Pengepungan Konstantinopel.[32]
Kaisar Bizantium Konstantinus XI meminta Eropa Barat untuk menolong, namun pertolongan itu tidak bertemu dengan sukses. Sejak saling ekskomunikasi Ortodoks dan Katolik Roma pada tahun 1054, Katolik Roma Barat telah berusaha untuk memperoleh kekuasaan atas timur; adapun serikat telah mencoba sebelumnya di Lyon pada tahun 1274 dan memang, beberapa kaisar Paleologos memang diterima di gereja Latin. Kaisar Yohanes VII Palaiologos telah berusaha untuk bernegosiasi dengan Paus Eugenius IV, dan pada Konsili Florence yakni pada tahun 1439 dan menghasilkan proklamasi, di Florence dari Uni Banteng.
Sebuah Meriam Raksasa Turki yang digunakan untuk mengepung Konstantinopel pada pengepungan yang kedua.
Di musim panas 1452, ketika tugas Rumeli Hisari sudah selesai dan ancaman yang berasal dari Kesultanan Utsmaniyah semakin dekat, Konstantinus menulis surat untuk Paus untuk berjanji dan melaksanakan perserikatan tersebut. Adapun, dinyatakan berlaku oleh pengadilan kekaisaran pada hari Selasa, 12 Desember 1452 dan pelaksanaannya dikerjakan setengah hati.[31] Walaupun dia sangat ingin untuk sebuah keuntungan, Paus Nicolas V tidak mempunyai pengaruh Bizantium dan pikirnya memiliki lebih dari Raja-Raja Barat dan Pangeran-pangerannya, beberapa di antaranya untuk waspada meningkatkan kontrol Kepausan, dan ini bukanlah sarana buat berkontribusi dengan upaya, mengingat bahwa negara yang melemah di Perancis dan Inggris dari Perang Seratus Tahun, sedang Spanyol berada dalam akhir Reconquista, selain itu pertempuran internal dalam Kerajaan Jerman,Hungaria dan Polandia yang mengalami kekalahan pada Pertempuran Varna pada 1444. Meskipun beberapa pasukan telah datang dari negara kota perdagangan Italia bagian utara, kontribusi Barat tidak memadai untuk mengimbangi kekuatan Utsmani. Beberapa individu barat datang untuk mempertahankan kota untuk. Salah satunya adalah seorang prajurit yang digunakan untuk melengkapi pasukan yang berasal dari Genoa, yaitu Giovanni Giustiniani, yang tiba dengan 700 pria bersenjata lainnya di Januari 1453.[33]Seorang spesialis dalam mempertahankan kota-kota bertembok, ia langsung diberi komando pertahanan dinding tanah oleh kaisar, sekitar pada waktu yang sama para kapten dari kapal Venesia kebetulan hadir di Tanduk Emas menawarkan jasa mereka pada Kaisar, yaitu membuat pembatas yang berlawanan dari arah Venesia, dan Paus Nicholas mengambil langkah untuk mengirimkan tiga buah kapal yang sarat akan ketentuan, yang berlayar di dekat akhir Maret.[34]Di Venesia, sementara itu, musyawarah sedang berlangsung untuk mempertimbangkan jenis bantuan yang akan dipinjamkan oleh Republik kepada Konstantinopel. Senat memutuskan untuk mengirim armada, akan tetapi ada penundaan, dan akhirnya ditetapkan pada akhir April, tapi armada terlambat sehingga armada yang dikirimkan itu tak ikut dalam pertempuran.[35]Selanjutnya, 7 kapal Italia keluar dari ibu kota saat Giustiniani, maka tiba-tiba ada seorang pria yang bersumpah mempertahankan ibu kota. Pada saat yang sama, upaya Konstantinus menjanjikan hadiah untuk Sultan, berakhir dengan ekskusi duta besar Kaisar — bahkan diplomasi Bizantium tidak bisa menyelamatkan kota. [31]Maka dia pun segera mengajukan bermacam-macam tawaran kepada sultan agar mau menarik pasukannya dan sebagai penggantinya akan menyetorkan uang dan akan menyatakan ketaatan padanya dan tawaran-tawaran lainnya. Namun Sultan Muhammad Al-Fatih, alih-alih menerima tawaran itu, malah dia dengan tegas meminta kaisar menyerahkan kota Konstantinopel. Jika demikian, maka sultan akan memberi jaminan bahwa tidak akan ada seorang penduduk pun dan satu gereja pun yang akan diganggu.[36]
Gambar Kejatuhan Konstantinopel oleh Theophilos Hatzimihail.
Karena khawatir akan serangan dari Angkatan Laut Kesultanan Utsmaniyah di sepanjang pantai Tanduk Emas, maka Konstantinus XI memerintahkan agar rantai diletakkan di mulut pelabuhan. Rantai yang mengapung di atas gelondongan kayu, cukup kuat untuk mencegah kapal Turki untuk memasuki pelabuhan. Perangkat ini adalah salah satu dari dua yang digunakan sebagai bantuan sementara oleh Bizantium dengan harapan untuk memperluaskan pengepungan sampai kemungkinan kedatangan bantuan asing. Angkatan Laut Utsmani berusaha melampaui rantai-rantai besar yang dipasang pasukan Bizantium, yang merupakan sarana utama mereka untuk melindungi kota dari serangan luar.[36]Strategi ini berhasil diterapkan, karena pada tahun 1204 tentara Perang Salib Keempat berhasil dielakkan pertahanan tanah Konstantinopel dengan menerobos dinding perlindungan bagian sisi Tanduk Emas. Strategi lain yang digunakan oleh Bizantium adalah perbaikan dan fortifikasi tembok tanah, yaitu Dinding Theodosia. Kaisar Konstantinus XI dianggap perlu memastikan bahwa dinding Kabupaten Blachernae itu adalah yang paling dibentengi karena bagian dinding utara menonjol. Benteng tanah yang terdiri 60 ft (18 m), lebar parit depan yang bertangkup itu pada dinding-dindingnya bagian dalam dan luar diberi jarak setiap 50-60 meter untuk diletakkan di situ menara untuk mengawasi.[37]

Kekuatan

Tentara yang mempertahankan Konstantinopel relatif sedikit; berjumlah kira-kira 7.000 orang, 2.000 orang di antaranya adalah orang asing.[38]Pada awal pengepungan, mungkin 50.000 orang hidup di dekat tembok perlindungan, termasuk para pengungsi dari daerah sekitarnya.[39]Komandan Turki Dorgano, yang berada di Konstantinopel dalam bayaran kaisar, juga menjaga seperempat dari kota di sisi arah laut dengan Turki dalam upahnya.[40] Orang Turki ini tetap loyal terhadap Kaisar dan tewas pada pertempuran berikutnya.
Gambaran modern tentang Mehmed II dan Tentara Utsmaniyah menjelang kejatuhan Konstantinopel, digambar Fausto Zonaro (1854–1929).
Dinasti Utsmaniyah, dilain pihak, memiliki kekuatan yang lebih besar. Menurut studi terbaru dan data arsip Utsmani menunjukkan bahwa ada sekitar 80.000 tentara Utsmaniyah termasuk 5/6.000-10.000 tentara elit Yanisari[3][16][17], dan ribuan pasukan Kristen,[40] yakni 1.500 kavaleri bahwa penguasa Serbia Đurađ Branković diberikan sebagai dari kewajiban untuk sultan Utsmaniyah. Tetapi hanya beberapa bulan sebelumnya, ia telah dibayar untuk memperbaiki dinding Konstantinopel. Saksi Barat kontemporer pengepungan, yang cenderung membesar-besarkan kekuatan Sultan, dengan mengatakan jumlah-jumlah yang banyak dan lebih tinggi mulai dari 160.000-200.000 atau 300.000 orang pasukan.[3] (Niccoló Barbaro: 160.000[41];Jacopo Tedaldi, pedangang Florence[42] dan George Sphrantzes:[18] 200.000; Kardinal Isidor dari Kiev [43] dan Uskup Agung Metilene, Leonardo di Chio:[44] 300,000).[45][46]

Disposisi dan Strategi Turki Utsmani

Mehmed membangun armada untuk mengepung kota dari laut (sebagian diawaki oleh pelaut Yunani dan Gallipoli).[16] Menurut perkiraan kontemporer, kekuatan armada Turki Utsmani adalah terentang 100 kapal (Tedaldi), [42] 145 (Barbaro),[41] 160 (Ubertino Pusculo),[47] 200–250 (Isidore dari Kiev,[43] Leonardo di Chio)[48] hingga 430 (Sphrantzes).[18]Perkiraan modern yang lebih realistis memprediksikan kekuatan armada kapal adalah 126, khusus terdiri dari 6 kapal besar, kapal biasa 10, 15 kapal kecil, 75 perahu dayung besar, dan 20 kuda pengangkut.
Sebelum pengepungan Konstantinopel, diketahui bahwa Kesultanan Utsmaniyah mempunyai kemampuan melemparkan meriam ukuran sedang, tetapi kisaran beberapa bagian mereka dapat mencapai mampu melewati medan yang lebih jauh melampaui harapan orang-orang yang mempertahankan Konstantinopel. Kemajuan Utsmaniyah secara instrumental dalam produksi sosok senjata misterius dengan nama Orban, menurut Hungaria (walapun beberapa pendapat itu dari Jerman).[49] Satu meriam dirancang oleh Orban dinamai "Basilika" mempunyai tinggi yaitu 27 feet (8.2 m) dan mampu melemparkan meriam seberat 600 lb (272 kg) lebih dari 1 mil (1.6 km).[50]

Seorang pembuat bangunan awalnya mencoba untuk menjual jasa kepada Bizantium, yang tidak mampu untuk mengamankan dana yang dibutuhkan untuk mempekerjakan dia. Orban kemudian meninggalkan Konstantinopel dan mendekati Mehmed II, mengklaim bahwa senjata itu bisa dari ledakan dinding sisi Babilonia itu sendiri. Mengingat dana berlimpah dan bahan yang berlimpah juga, insinyur Hungaria membangun senjata dalam waktu tiga bulan di Adrianopel, di mana ia diseret oleh enam puluh lembu ke Konstantinopel. Sementara itu juga, Orban juga menghasilkan meriam instrumental lainnya untuk kekuatan pengepungan oleh pasukan Turki.[51]
Meriam Orban mempunyai beberapa kelemahan, yaitu: butuh 3 jam untuk mengisi kembali meriam itu, suplai meriam Orban sangat singkat, dan meriam itu dikatakan sudah jatuh ketangan lain setelah 6 minggu (tapi, fakta ini diperselisihkan[3], yang dilaporkan hanya dalam surat Uskup Leonardo di Chio[44] dan di dalam surat dan seringkali tidak dapat dipercayai sebuah kronikel Rusia dari Nestor Iskander).[52]Setelah sebelumnya membuat pengecoran besar, kira-kira 150 miles (240 km) jauhnya, Mehmed sekarang sekarang harus menjalani proses melelahkan, yaitu mengangkut potongan-potongan besar artilerinya. Dikatakan, meriam besar Orban mempunyai disertai oleh kru dari 60 ekor sapi dan lebih dari 400 orang .[49]
Mehmed merencanakan untuk menyerang Dinding Theodosia, yang merupakan bagian terumit dari dinding dan parit yang melindungi Konstantinopel dari serangan yang berasal dari arah barat. Pasukannya berkemah di luar kota pada hari Senin setelah Paskah, 2 April 1453.
Sebagian besar pasukan Turki Utsmani berkemah di selatan Tanduk Emas, pasukan Eropa biasa berkemah terbentang di seluruh dinding, yang diperintah oleh Karaja Pasha. Pasukan biasa dari Anatolia di bawah Ishak Pasha di selatan Lycus sampai ke Laut Marmara. Mehmed sendiri mendirikan tenda berwarna merah-emasnya dekat Mesotheichion, di mana senjata dan resimen elit, juga Yanissari, juga diposisikan. Bashi-bazouk tersebar di belakang garis depan pertahanan. Pasukan lain di bawah Zagan Pasha dipekejakan di utara Tanduk Emas. Komunikasi dipertahankan dengan jalan yang dibangun melewati rawa dekat Tanduk Emas.[53]

Disposisi dan Strategi Bizantium

Dinding yang dibuat oleh Kekaisaran Romawi Timur
Kota Konstantinopel mempunyai jarak sekitar 20 km dari dinding (Dinding Theodosia: 5,5 km; dinding laut di sepanjang Golden Horn: 7 km; dinding laut di sepanjang Laut Marmara: 7,5 km) salah satu rangkaian dinding benteng terkuat yang ada pada waktu itu. Dinding itu baru saja diperbaiki (di bawah Yohanes VII Palaiologos) dan dalam kondisi yang cukup baik, memberikan pejuang Konstantinopel alasan yang cukup untuk percaya bahwa mereka bisa bertahan sampai bantuan dari Barat tiba.[54]Selain itu juga, pejuang mempunyai perlengkapan yang relatif baik, yaitu dilengkapi dengan 26 armada: 5 dari Genoa, 5 dari Venesia, 3 dari Venesia-Kreta, 1 dari Ancona, 1 dari Aragon, 1 dari Perancis, dan 10 dari Bizantium itu sendiri.
Pada 5 April, Sultan sendiri tiba bersama tentara terakhirnya, sedangkan para pejuang Romawi Timur mengambil posisi mereka.[55]Sebagaimana mereka cukup untuk menempati dinding secara keseluruhan, sudah diputuskan bahwa hanya dinding luar akan berawak. Konstantinus dan pasukan Yunaninya menjaga Mesoteichion, bagian tengah dinding tanah, di mana mereka dilintasi oleh sungai Lycus. Pada bagian dianggap sebagai titik terlemah pada dinding dan serangan yang paling dikhawatirkan di sini. Giustiniani ditempatkan di utara kaisar di Gerbang Charisia (Myriandrion); kemudian selama pengepungan, ia pindah ke Mesoteichion untuk bergabung bersama Konstantin, meninggalkan Myriandrion untuk mengisi tempat saudara Bocchiardi. Minotto dan orang Venesia-nya ditugaskan di Istana Blachernae, bersama dengan Teodoro Caristo, yaitu saudara Langasco dan Uskup Agung Leonardo di Chio. Di sebelah kiri kaisar, kemudian jauh ke selatan terdapat komandan Cataneo, bersama tentara Genoa, dan Theophilus Palaeologus yang menjaga Gerbang Pegae bersama tentara Yunaninya. Bagian dinding tanah dari Gerbang Pegae dan Gerbang Emas (sendiri dijaga oleh orang Genoa tertentu yang disebut Manuel) yang dipertahankan oleh Filippo Contarini, sementara Demetrius Cantacuzenus mengambil posisi di bagian selatan dinding Theodosia. Dinding laut jarang berawak, dengan Jacobo Contarini di Stoudion, kekuatan pertahanan darurat biarawan Yunani ke tangan kirinya, dan Pangeran Orhan ada di Pelabuhan Eleutherius. Péré Julia ditempatkan di Istana Agung dengan pasukan Genoa; Kardinal Isidore dari Kiev menjaga ujung semenanjung dekat perintang pelabuhan. Dinding laut di selatan pantai Tanduk Emas dipertahankan oleh Venesia dan Genoa di bawah Gabriele Trevisano.

Serangan terakhir

Lukisan oleh pelukis Yunani Theophilos Hatzimihail menggambarkan pertempuran di dalam kota, Konstantinus terlihat menunggangi kudap putih.
Pengepungan Konstantinopel, dibuat 1499.
Persiapan untuk serangan terakhir dimulai pada petang 26 Mei dan berlanjut keesokan harinya.[56] Selama 36 jam setelah dewan perang memutuskan untuk menyerang, Utsmaniyah secara besar-besaran menggerakan tentara mereka untuk oefensif umum.[56] Tentara diberi kesempatan untuk berdoa dan beristirahat pada tanggal 28, dan kemudian serangan terakhir akan dilancarkan. Di pihak Bizantium, suatu armada kecil Venesia dengan 12 kapal, setelah menyusuri Aigeia, tiba di Ibukota pada 27 Mei dan melaporkan kepada Kaisar bahwa tidak ada armada bantuan Venesia yang besar yang akan datang.[57] Pada 28 Mei, ketika Utsmaniyah bersiap untuk serangan terakhir, prosesi keagamaan berskala besar digelar di dalam kota. Saat petang suatu upacara khidmat digelar di Hagia Sophia, di mana Kaisar dan perwakilan gereja Latin dan Yunani ikut serta, bersama-sama dengan kaum bangsawan dari kedua pihak.[58]
Tidak lama setelah tengah malam pada 29 Mei serangan mati-matian dimulai. Pasukan Kristen Kekaisaran Utsmaniyah menyerang pertama kali, diikuti oleh gelombang serangan berturut-turut oleh azap ireguler, yang miskin pelatihan dan perlengkapan, serta pasukan Anatolia yang berfokus pada bagian dinding Blachernai di barat laut kota, yang telah rusak oleh meriam. Bagian ini dibuat lebih tua, pada abad kesebelas, dan jauh lebih lemah. Pasukan Anatolia berhasil menembus bagian dinding ini dan memasuki kota namun dengan cepat dihalau keluar oleh pasukan bertahan. Akhirnya, seiring pertempuran terus berlanjur, gelombang terakhir, yang terdiri atas Yanisari elit, menyerang dinding kota. Jenderal Genoa yang memimpin serangan darat,[3][43][44] Giovanni Giustiniani, terluka parah selama serangan, dan evakuasinya dari benteng memicu kepanikan di kalangan pasukan bertahan.[59] Giustiniani dibawa ke Khios, di mana dia meninggal akibat lukanya beberapa hari kemudian.
Dengan mundurnya pasukan Genoa yang dipminpin Giustiniani ke dalam kota dan menuju pelabuhan, Konstantinus dan pasukannya, kini tinggal berjuang sendirian, terus bertempur dan mampu menahan Yanisari untuk sementara, tapi akhirnya mereka tidak mampu menghentikan Yanisari memasuki kota. Pasukan bertahan juga kewalahan di beberapa titik di bagian Konstantinus. Ketika bendera Utsmaniyah berkibar di atas sebuah gerbang belakang kecil, Kerkoporta, yang terbuka, kepanikan merebak, dan pertahanan pun runtuh, seiring Yanisari, yang dipimpin oleh Ulubatlı Hasan terus menekan. Tentara Yunani berlarian ke rumah untuk melindungi keluarga, tentara Venesia berlarian ke kapal-kapal mereka, dan beberapa tentara Genoa melarikan diri ke Galata. Sisanya bunuh diri dengan melompat dari dinding kota atau menyerah.[4] Rumah-rumah Yunani yang paling dekat dengan kota adalah yang pertama mengalami penyerangan oleh Utsmaniyah. Disebutkan bahwa Konstantinus, melepaskan regalia ungunya, memimpin serangan terakhir terhadap pasukan Utsmaniyah yang berdatangan, dan meninggal dalam bentrokan yang terjadi di jalanan besama para tentaranya. Di pihak lain, Nicolò Barbaro, seorang saksi mata Venesia selama pengepungan, menulis dalam buku hariannya bahwa dikatakan bahwa Konstantinus gantung diri ketika Utsmaniyah menembus gerbang San Romano, meskipun nasib akhirnya tak diketahui.[60]
Setelah serangan awal, pasukan Utsmaniyah menyebar di sepanjang kalanan kota, Mese, melewatkan forum-forum besar, dan melewatkan Gereja Rasul Suci, yang diinginkan oleh Mehmed II untuk dijadikan tempat kedudukan patriark yang akan ditunjuknya, yang akan membantunya untuk lebih baik dalam mengendalikan rakyat Kristennya. Mehmed II telah mengirim tentara untuk melindungi bangunan-bangunan penting seperti gereja tersebut.
Sedikit penduduk sipil yang beruntung berhasil kabur. Ketika orang Venesia melarikan diri ke kapal-kapal mereka, Utsmaniyah telah merebut dinding Tanduk Emas, namun tentara Ustmaniyah tidak membunuh mereka karena lebih tertarik untuk menjarah rumah-rumah di kota. Akibatnya, Tanduk Emas diabaikan sehingga orang Venesia mampu selamat. Kapten Venesia memerintahkan anak buahnya untuk mendobrak gerbang Tanduk Emas, lalu mengisi kapal dengan tentara Venesia dan pengungsi dari kota. Segera setelah mereka pergi, beberapa kapal Genoa dan bahkan kapal Kaisar mengikuti mereka keluar dari Tanduk Emas. Tak lama setelah itu, Angkatan Laut Utsmaniyah kembali menguasai Tanduk Emas pada tengah hari.[4]
Pasukan Utsmaniyah mendatangi Augusteum, lapangan luas di depan gereja Hagia Sophia yang gerbang perunggunya dihalangi oleh kerumunan pendduk sipil di dalam bangunan, meminta bantuan tuhan. Setelah pintunya didobrak, tentara Utsmaniyah memisahkan orang-orang berdasarkan kemungkinan harga mereka di pasar budak. Mehmed II mengizinkan pasukannya menjarah kota selama tiga hari sesuai adat.[61] Para tentara memperebutkan sejumlah rampasan perang.[62] Menurut ahli bedah Venesia Nicolò Barbaro "sepanjang hari pasukan Turk membantai banyak sekali orang Kristen di seluruh kota". Menurut Philip Mansel, ribuan penduduk sipil dibunuh dan 30.000 penduduk sipil diperbudak atau diusir.[63] Suatu catatan saksi mata, yang muncul di buku They Saw It Happen in Europe 1450-1600 (1965) karya C.R.N. Routh, menceritakan sebagai berikut:

Queen Anne Boleyn



Anne Boleyn (antara 1530-1536.)
Anne Boleyn adalah Ratu Inggris dari tahun 1533 - 1536 dan istri dari Raja Henry VIII. Dia merupakan Ratu Inggris pertama yang dihukum mati di depan umum. Kisah tragis mengenai kehidupan Anne Boleyn sering digunakan sebagai inspirasi dari cerita maupun film.[1] Di dalam sejarah Inggris, Anne Boleyn adalah salah satu wanita yang paling kontroversial karena dikagumi sekaligus dicaci-maki oleh masyarakat.[2]

Daftar isi

Masa Kecil

Anne Bolyne merupakan anak dari seorang diplomat bernama Thomas Boleyn dan Elizabeth (putri dari Duke of Norfolk). Tidak ada catatan yang jelas mengenai tahun kelahiran Anne, namun diperkirakan dia lahir antara tahun 1501-1507. Masa kecil dan remaja Anne dihabiskan di Eropa dan diisi dengan menjadi pendamping dari Archduchess Margaret di Belanda. Pada tahun 1514, Anne menjadi pendamping dari Ratu Mary, adik dari Raja Henry VIII. Setelah itu, Anne juga sempat menjadi pendamping Ratu Claude dari Perancis selama hampir tujuh tahun. Sebagai pendamping, tugas Anne adalah menemani ratu dalam berbagai acara kerajaan.[2]

Hubungan dengan Henry Percy

Pada tahun 1522, Anne Boleyn kembali ke Inggris dan menjadi pendamping dari Catherine dari Aragon, istri Henry VIII. Penampilan dan sopan santun Anne mengundang banyak kekaguman di dalam istana. Di saat itu, Henry VIII berselingkuh dengan saudara perempuan Anne, yaitu Mary Boleyn. Namun saat itu Mary masih berusia terlalu muda untuk dinikahi dan memberikan keturunan laki-laki bagi Henry VIII. Raja Henry VIII memberikan banyak hadiah dan gelar kepada Anne dan keluarganya. Ayah Anne diangkat menjadi Earl of Witshire dan adik lelakinya, Lord George Rochford, menjadi penjaga ruang rahasia kerajaan.[2]
Pada usia 21 atau 22 tahun, Anne jatuh hati dengan seorang pekerja kerajaan yang bernama Henry Percy. Pada tahun 1522, mereka bertunangan secara diam-diam karena Percy telah bertunangan dengan orang lain. Namun, pertunangan Anne dan Percy dibatalkan oleh Kardinal Wolsey, pejabat penting dalam pemerintahan Inggris, dan dengan intervensi dari Raja Henry VIII. Percy dilarang untuk menemui Anne dan Anne pun dilarang masuk ke dalam kerajaan hingga tahun 1524/1525.[3]

Perkawinan dengan Henry VIII


Henry VIII dan Anne Boleyn
Ketika Henry VIII lelah menunggu istrinya yang tidak kunjung memberikan keturunan laki-laki, dia meminta Paus Klemens VII untuk mencabut pernikahan pertamanya sehingga dia dapat menikahi Anne Boleyn. Paus menolak keinginan tersebut karena dia takut melawan kekuasaan Kaisar Roma, Charles V, yang merupakan keponakan Catherine dari Aragon.[2]
Pada awalnya, Anne menghindar dari Raja Henry VIII, namun pada tahun 1533, dia mengandung anak pertamanya dengan raja. Pada Januari 1533, Henry VIII memutuskan hubungan dengan Gereja Katolik dan menikahi Anne dalam suatu upacara rahasia. Dia mengumumkan suatu akta supremasi yang menyatakan dirinya menjadi kepala gereja Inggris. Di bulan Juni 1533, Anne dinobatkan menjadi Ratu Inggris dalam suatu upacara mewah di Westminster Abbey.[2]
Anak pertama Henry dan Anne dilahirkan pada September 1533 dan kelak menjadi Ratu Elizabeth I. Anne sempat mengalami dua kali keguguran pada musim panas tahun 1534 dan 1536. Saat kehamilan keduanya berusia 15 minggu, Anne mendapatkan informasi bahwa Henry VIII mengalami luka parah di dalam suatu turnamen. Anne sangat syok mendengar berita tersebut dan akhirnya mengalami keguguran anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki di hari yang sama dengan pemakaman Catherine, istri pertama Henry VIII. Henry yang putus asa menginginkan anak laki-laki kemudian berselingkuh dengan Jane Seymour, salah satu pendamping Anne Boleyn.[4]

Hukuman Mati

Agar dapat menikahi Jane Seymour, Raja Henry VIII mencari cara untuk menyingkirkan Anne Boleyn dengan menuduhnya melakukan perselingkuhan. Untuk merekayasa perselingkuhan tersebut, Henry VIII dibantu oleh Thomas Cromwell, orang kepercayaan raja dan politisi modern yang bertentangan dengan Gereja Katolik.[5] Thomas menulis surat kepada Percy untuk memaksa Percy mengakui hubungannya dengan Anne Boleyn masih berlangsung dan mereka berdua memiliki perjanjian pra-nikah. Namun, Percy tidak memberikan jawaban apapun yang memberatkan Anne.[6]
Di bulan April 1536, Sir Francis Weston, William Brereton, Mark Smeaton, Sir Henry Norris dan adik Anne, Lord Rochford, ditangkap dengan tuduhan memiliki hubungan gelap dengan Ratu Anne Boleyn. Selain itu, Anne juga diperiksa oleh komisi rahasia yang terdiri dari ayahnya sendiri, pamannya, dan Thomas Cromwell. Pada 2 Mei 1536, Anne ditangkap dan dinyatakan bersalah atas tuduhan memiliki hubungan gelap dengan lima pria, termasuk adik laki-lakinya sendiri.[2]
Di dalam persidangan yang dipimpin oleh pamannya sendiri, Duke of Norfolk, Anne dinyatakan bersalah karena perselingkuhan dan melakukan sihir. Keyakinan Anne melakukan sihir atau penyembah setan juga dianggap diperkuat dengan fisiknya yang unik karena memiliki 6 jari pada salah satu tangan dan tahi lalat yang besar di bagian leher.[1] Percy yang menghadiri persidangan tersebut jatuh pingsan setelah mendengar hukuman yang akan diterima oleh Anne.[6] Ratu Anne selanjutnya dipenjara di Menara London. Dari sana, dia digiring ke Menara Hijau (Tower Green) untuk dipenggal dengan pedang. Anne takut dengan kapak sehingga untuk pemenggalan tersebut, didatangkan dua orang Perancis yang ahli dalam mengeksekusi mati dengan pedang.[3]
Pada saat-saat terakhirnya, Anne memberikan pidato yang berisi pujian terhadap Raja Henry VIII yang menyatakan bahwa Raja merupakan seorang yang baik, lembut, dan berdaulat.[2]
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik